Pages

Wednesday, May 29, 2013

Tinjauan Buku : SENJA JATUH DI PAJAJARAN: SEBUAH CATATAN RINGAN

Penulis : Aan Merdeka Permana·

Membaca novel dengan setting sejarah memang selalu menarik (bagi saya). Pun ketika saya membaca novel Senja Jatuh di Pajajaran karya Aan Merdeka Permana. Sebuah catatan ringan rasanya pantas ditulis selepas membacanya.
Novel ini mengambil setting waktu pada masa Pajajaran akhir, pada saat raja yang berkuasa di Pajajaran adalah Sang Ratu Prabu Sakti (1543 – 1551 M), buyut Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Sedangkan Pajajaran benar-benar runtuh pada tahun 1570-an, dengan raja terakhir Sang Ratu Prabu Nilakendra, putra Prabu Ratu Sakti.

Hal itu sesuai dengan catatan yang terdapat dalam naskah Pangeran Wangsakerta. Urutannya adalah: Prabu Siliwangi, Prabu Surawisesa, Prabu Ratu Dewata, kemudian Prabu Ratu Sakti. Bahkan tampaknya, Aan Merdeka Permana menjadikan naskah dari Cirebon tersebut menjadi rujukan utama ketika menyusun tautan peristiwa novelnya.
Selain naskah Wangsakerta, Aan juga menjadikan naskah buhun Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian sebagai sumber ajaran moral, yang disebutnya “ajaran lama” atau “ajaran leluhur”, yang dikontraskan dengan “ajaran baru” (Islam), yang pada saat itu mulai masuk-merasuk ke Tatar Sunda, melalui Cirebon dan Banten.
Begitu pula dengan istilah-istilah Sunda, seperti istilah ketatanegaraan: mangkubumi, kandagalante, puhawang, dsb; istilah formasi tempur: makara bihwa, lisang bihwa, cakra bihwa, suci muka, bajra panjara, merak simpir, kidang sumeka, babah buhaya, ngalinggamanik, dsb.; serta istilah-istilah lainnya, yang berasal dari bahasa Sunda kuno.

Setting tempatnya mencakup sepanjang wilayah utara Tatar Sunda, yang memang pada saat itu merupakan daerah paling maju dan dinamis. Jalan utama yang menghubungkan Kawali dengan Pakuan (di Bogor), misalnya, berada di Jabar Utara, yang oleh Haryoto Kunto disebut Jalan Highway Pajajaran. Bahkan boleh dikatakan cerita berlangsung di seputar jalan tersebut. Misalnya Desa Cae (tempat di antara Malangbong dan Wado), Kampung Wado, Sagaraherang (sekarang Sagalaherang - Subang), Tanjungpura (Karawang), Cibarusah (Bekasi), sebelum akhirnya sampai di Pakuan (Bogor).

Cerita bermula dari puncak Gunung Cakrabuana, sebuah gunung di kawasan utara Tasikmalaya sekarang. Ki Darma Tunggara, mantan perwira pengawal kerajaan menggembleng anak pungutnya bernama Ginggi. Ki Darma prajurit kawakan, ia sudah mengabdikan dirinya kepada negara sejak zaman Prabu Siliwangi. Tapi setelah Prabu Siliwangi mangkat, Ki Darma menjadi prajurit yang tidak disukai, karena kebiasaannya berkata jujur dan mengeritik pemerintah (raja). Memang Pajajaran mengalami masa keemasannya pada zaman Prabu Siliwangi, kemudian menurun, karena para penggantinya tidak secakap Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja atau Prabu Jaya Dewata). Ki Darma akhirnya menjadi buronan kerajaan, bahkan dianggap sebagai pengkhianat negara.
Pemuda Ginggi disuruh turun gunung untuk mencari keempat murid Ki Darma sebelumnya, yakni Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta, si kembar Rangga Guna dan Rangga Wisesa. Sekaligus untuk membantu mereka dalam membela rakyat Pakuan, yang sedang menderita. Penderitaan itu terjadi karena penguasa Pakuan menarik seba (semacam upeti) yang tinggi kepada daerah-daerah yang menjadi bawahannya. Alasannya untuk mengembalikan kejayaan Pajajaran membutuhkan biaya yang tinggi. Namun ternyata biaya yang didapat dari rakyat tersebut lebih banyak dipergunakan untuk kepentingan pribadi para bangsawan di sekitar istana. Lebih jauh dari itu, oleh dua orang murid Ki Darma yakni Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta, dipergunakan untuk membangun kekuatan, yang akan dipergunakan untuk menggulingkan kekuasaan.

Dalam upayanya menggulingkan kekuasaan raja, Ki Banaspati memanfaatkan Kandagalante Sagaraherang, Ki Sunda Sembawa, yang ambisius. Sedangkan Bagus Seta memanfaatkan Bangsawan Soka (penanggung jawab kerajaan urusan seba), yang juga berambisi untuk menggeser raja. Upaya Ki Banaspati cs ini mendapat perlawanan orang-orang setia kepada raja, termasuk Ki Rangga Guna, salah seorang murid Ki Darma. Pemuda Ginggi pun akhirnya berpihak kepada Rangga Guna, setelah sempat menjadi tangan kanan Ki Banaspati dan Bagus Seta. Upaya makar Ki Banaspati cs pun bisa dipadamkan.
Intrik kekuasaan, penimbunan kekayaan, dan percintaan (tahta, harta, dan wanita) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bernegara. Bahkan terasa sangat kental dalam novel ini. Artinya, tak semuanya mereka yang berjuang mengatasnamakan rakyat atau agama, terbebas dari urusan-urusan pribadi. Purbajaya, misalnya, seorang pengikut “agama baru”, yang ingin membunuh Sang Raja lebih karena dorongan cemburu. Sang Raja mengirim wanita yang dicintainya (Nyimas Banyak Inten), yang juga diminati Sang Raja, ke mandala. Penyebabnya adalah Banyak Inten pernah dibawa kabur oleh pemuda mata keranjang Suji Angkara, anak tiri Bagus Seta.

Aan melalui novel ini seolah-olah ingin mengatakan, bahwa runtuhnya Pakuan Pajajaran, bukan karena datangnya “agama dan kepercayaan baru” bagi penduduk Tatar Sunda saat itu, tapi karena memang keadaan Pakuan Pajajarn sendiri sudah sangat keropos. Raja terlena dalam kemewahan dan mengumpulkan selir-selir cantik. Terjebak dalam upacara dan pesta pora. Sedangkan para pejabat di bawahnya sibuk mengumpulkan kekayaan dan berebut pengaruh untuk menjadi orang kepercayaan raja. Lebih jauh dari itu, sibuk menyusun kekuatan untuk menggulingkan raja. Masuknya “agama baru” (Islam) ke Tatar Sunda, tidak membuat orang Sunda resah gelisah. Mereka bisa hidup rukun dan damai, seperti yang diagambarkan Aan di Tanjungpura (Karawang). Tanjungpura, yang dalam sejarah Jawa Barat disebut Pura Dalem, memang tempat berdirinya pesantren, mungkin yang pertama di Jawa Barat, yang didirikan oleh Syeh Kuro, seorang ulama berasal dari daratan Cina. Bahkan salah seorang istri Prabu Siliwangi, yakni Nay Subanglarang, murid Syeh Kuro, yang tentu saja beragama Islam.

Aan seolah-olah ingin menegaskan, bahwa Pajajaran runtuh, jauh setelah Prabu Siliwangi mangkat. Ini semacam antitesis dari cerita rakyat, bahwa Prabu Siliwangi diperangi oleh putranya sendiri Kian Santang, karena tidak mau masuk Islam, yang mengakibatkan runtuhnya Pajajaran. Yang jelas, runtuhnya Pajajaran, tidak sezaman dengan saat Prabu Siliwangi menjadi raja.
Secara psikososial, Aan berhasil memotret permasalahan berbangsa dan bernegara yang universal, melalui pendekatannya ke masa silam. Masalah intrik politik, berebut pengaruh penguasa, kemunafikan, seks di kalangan pejabat Negara, memperalat agama dan kepercayaan untuk kepentingan pribadi, masalah kehormatan yang terkotak-kotak, bukan sekadar monopoli masa lalu. Pun terjadi pada saat ini, bahkan mungkin saja, tidak lebih baik dari masa lalu.

Dari segi kebudayaan lokal, pengetahuan bisa bertambah melalui penuturan cara berpakaian masyarakat Pajajaran pawa waktu itu. Misalnya saja kampret, salontreng, sontog, senting, totopong, pokek bendo citak, lohen, dan toroktok. Corak batik, yang ternyata sudah dikenal sejak jaman Pajajaran, seperti pupunjungan, taruk ala, hihinggulan, dan alas-alasan. Perkakas dan senjata seperti: baliung, kored, cagak, tumbak, golok, peso pangot, dsb. Namun tak ada keterangan yang menyebutkan tentang kujang, baik sebagai perkakas kerja atau senjata perang.
Hal yang rasanya perlu diperdebatkan lagi tentang jurus-jurus silat (penca) yang dipergunakan dalam berbagai perkelahian. Misalnya saja jurus walet notol, maung luncat muru mencek. Dalam penggambarannya mengingatkan kita pada cerita silat cina Kho Ping Ho atau silat sejenis yang dapat kita baca dalam buku serial Api di Bukit Menoreh karya SH Mintareja.

Walaupun demikian, beberapa ilmu silat masih sering kita dengar saat ini, walaupun dengan nama yang berbeda, misalnya: salimpet haseup (ilmu agar tidak terlihat dari pandangan orang, yang kini dikenal dengan istilah halimunan), ilmu hiliwir sumping (ilmu untuk mendengarkan suara dari tempat yang jauh), ilmu napak sancang (ilmu untuk berjalan di atas air), ilmu kapas ngapung (ilmu untuk meringankan tubuh), dan sirep (ilmu untuk menidurkan orang lain).
Kalaupun ada hal yang sedikit mengganggu, adalah bahasanya. Bahasa yang dipergunakan Aan terpengaruh oleh struktur bahasa Sunda. Mungkin karena Aan adalah juga penulis bahasa Sunda yang produktif. Kata-kata berbahasa Sunda, terutama yang berkaitan dengan istilah-istilah pemerintahan, etika, dan ajaran moral, memang sudah semestinya ditulis seutuhnya, namun tetap menggunakan struktur bahasa Indonesia. Tentu saja bahasa Indonesia yang sesuai untuk sebuah novel.

Sebuah novel, yang rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja.
Tinjauan Buku :
SENJA JATUH DI PAJAJARAN: SEBUAH CATATAN RINGAN
Penulis : Aan Merdeka Permana·

Membaca novel dengan setting sejarah memang selalu menarik (bagi saya). Pun ketika saya membaca novel Senja Jatuh di Pajajaran karya Aan Merdeka Permana. Sebuah catatan ringan rasanya pantas ditulis selepas membacanya.
 Novel ini mengambil setting waktu pada masa Pajajaran akhir, pada saat raja yang berkuasa di Pajajaran adalah Sang Ratu Prabu Sakti (1543 – 1551 M), buyut Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Sedangkan Pajajaran benar-benar runtuh pada tahun 1570-an, dengan raja terakhir Sang Ratu Prabu Nilakendra, putra Prabu Ratu Sakti.
 
Hal itu sesuai dengan catatan yang terdapat dalam naskah Pangeran Wangsakerta. Urutannya adalah: Prabu Siliwangi, Prabu Surawisesa, Prabu Ratu Dewata, kemudian Prabu Ratu Sakti. Bahkan tampaknya, Aan Merdeka Permana menjadikan naskah dari Cirebon tersebut menjadi rujukan utama ketika menyusun tautan peristiwa novelnya.
Selain naskah Wangsakerta, Aan juga menjadikan naskah buhun Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian sebagai sumber ajaran moral, yang disebutnya “ajaran lama” atau “ajaran leluhur”, yang dikontraskan dengan “ajaran baru” (Islam), yang pada saat itu mulai masuk-merasuk ke Tatar Sunda, melalui Cirebon dan Banten.
 Begitu pula dengan istilah-istilah Sunda, seperti istilah ketatanegaraan: mangkubumi, kandagalante, puhawang, dsb; istilah formasi tempur: makara bihwa, lisang bihwa, cakra bihwa, suci muka, bajra panjara, merak simpir, kidang sumeka, babah buhaya, ngalinggamanik, dsb.; serta istilah-istilah lainnya, yang berasal dari bahasa Sunda kuno.  
 
Setting tempatnya mencakup sepanjang wilayah utara Tatar Sunda, yang memang pada saat itu merupakan  daerah paling maju dan dinamis. Jalan utama yang menghubungkan Kawali dengan Pakuan (di Bogor), misalnya, berada di Jabar Utara, yang oleh Haryoto Kunto disebut Jalan Highway Pajajaran. Bahkan boleh dikatakan cerita berlangsung di seputar jalan tersebut. Misalnya Desa Cae (tempat di antara Malangbong dan Wado), Kampung Wado, Sagaraherang (sekarang Sagalaherang - Subang), Tanjungpura (Karawang), Cibarusah (Bekasi), sebelum akhirnya sampai di Pakuan (Bogor).

 Cerita bermula dari puncak Gunung Cakrabuana, sebuah gunung di kawasan utara Tasikmalaya sekarang. Ki Darma Tunggara, mantan perwira pengawal kerajaan menggembleng anak pungutnya bernama Ginggi. Ki Darma prajurit kawakan, ia sudah mengabdikan dirinya kepada negara sejak zaman Prabu Siliwangi. Tapi setelah Prabu Siliwangi mangkat, Ki Darma menjadi prajurit yang tidak disukai, karena kebiasaannya berkata jujur dan mengeritik pemerintah (raja). Memang Pajajaran mengalami masa keemasannya pada zaman Prabu Siliwangi, kemudian menurun, karena para penggantinya tidak secakap Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja atau Prabu Jaya Dewata). Ki Darma akhirnya menjadi buronan kerajaan, bahkan dianggap sebagai pengkhianat negara.
 Pemuda Ginggi disuruh turun gunung untuk mencari keempat murid Ki Darma sebelumnya, yakni Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta, si kembar Rangga Guna dan Rangga Wisesa. Sekaligus untuk membantu mereka dalam membela rakyat Pakuan, yang sedang menderita. Penderitaan itu terjadi karena penguasa Pakuan menarik seba (semacam upeti) yang tinggi kepada daerah-daerah yang menjadi bawahannya. Alasannya untuk mengembalikan kejayaan Pajajaran membutuhkan biaya yang tinggi. Namun ternyata biaya yang didapat dari rakyat tersebut lebih banyak dipergunakan untuk kepentingan pribadi para bangsawan di sekitar istana. Lebih jauh dari itu, oleh dua orang murid Ki Darma yakni Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta, dipergunakan untuk membangun kekuatan, yang akan dipergunakan untuk menggulingkan kekuasaan.
 
Dalam upayanya menggulingkan kekuasaan raja, Ki Banaspati memanfaatkan Kandagalante Sagaraherang, Ki Sunda Sembawa, yang ambisius. Sedangkan Bagus Seta memanfaatkan Bangsawan Soka (penanggung jawab kerajaan urusan seba), yang juga berambisi untuk menggeser raja.  Upaya Ki Banaspati cs ini mendapat perlawanan orang-orang setia kepada raja, termasuk Ki Rangga Guna, salah seorang murid Ki Darma. Pemuda Ginggi pun akhirnya berpihak kepada Rangga Guna, setelah sempat menjadi tangan kanan Ki Banaspati dan Bagus Seta. Upaya makar Ki Banaspati cs pun bisa dipadamkan.
 Intrik kekuasaan, penimbunan kekayaan, dan percintaan (tahta, harta, dan wanita) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bernegara. Bahkan terasa sangat kental dalam novel ini. Artinya, tak semuanya mereka yang berjuang mengatasnamakan rakyat atau agama, terbebas dari urusan-urusan pribadi. Purbajaya, misalnya, seorang pengikut “agama baru”, yang ingin membunuh Sang Raja lebih karena dorongan cemburu. Sang Raja mengirim wanita yang dicintainya (Nyimas Banyak Inten), yang juga diminati Sang Raja, ke mandala. Penyebabnya adalah Banyak Inten pernah dibawa kabur oleh pemuda mata keranjang Suji Angkara, anak tiri Bagus Seta.

 Aan melalui novel ini seolah-olah ingin mengatakan, bahwa runtuhnya Pakuan Pajajaran, bukan karena datangnya “agama dan kepercayaan baru” bagi penduduk Tatar Sunda saat itu, tapi karena memang keadaan Pakuan Pajajarn sendiri sudah sangat keropos. Raja terlena dalam kemewahan dan mengumpulkan selir-selir cantik. Terjebak dalam upacara dan pesta pora. Sedangkan para pejabat di bawahnya sibuk mengumpulkan kekayaan dan berebut pengaruh untuk menjadi orang kepercayaan raja. Lebih jauh dari itu, sibuk menyusun kekuatan untuk menggulingkan raja. Masuknya “agama baru” (Islam) ke Tatar Sunda, tidak membuat orang Sunda resah gelisah. Mereka bisa hidup rukun dan damai, seperti yang diagambarkan Aan di Tanjungpura (Karawang). Tanjungpura, yang dalam sejarah Jawa Barat disebut Pura Dalem, memang tempat berdirinya pesantren, mungkin yang pertama di Jawa Barat, yang didirikan oleh Syeh Kuro, seorang ulama berasal dari daratan Cina. Bahkan salah seorang istri Prabu Siliwangi, yakni Nay Subanglarang, murid Syeh Kuro, yang tentu saja beragama Islam.

 Aan seolah-olah ingin menegaskan, bahwa Pajajaran runtuh, jauh setelah Prabu Siliwangi mangkat. Ini semacam antitesis dari cerita rakyat, bahwa Prabu Siliwangi diperangi oleh putranya sendiri Kian Santang, karena tidak mau masuk Islam, yang mengakibatkan runtuhnya Pajajaran. Yang jelas, runtuhnya Pajajaran, tidak sezaman dengan saat Prabu Siliwangi menjadi raja.
 Secara psikososial, Aan berhasil memotret permasalahan berbangsa dan bernegara yang universal, melalui pendekatannya ke masa silam. Masalah intrik politik, berebut pengaruh penguasa, kemunafikan, seks di kalangan pejabat Negara, memperalat agama dan kepercayaan untuk kepentingan pribadi, masalah kehormatan yang terkotak-kotak, bukan sekadar monopoli masa lalu. Pun terjadi pada saat ini, bahkan mungkin saja, tidak lebih baik dari masa lalu.
 
Dari segi kebudayaan lokal, pengetahuan bisa bertambah melalui penuturan cara berpakaian masyarakat Pajajaran pawa waktu itu. Misalnya saja kampret, salontreng, sontog, senting, totopong, pokek bendo citak, lohen, dan toroktok. Corak batik, yang ternyata sudah dikenal sejak jaman Pajajaran, seperti pupunjungan, taruk ala, hihinggulan, dan alas-alasan. Perkakas dan senjata seperti: baliung, kored, cagak, tumbak, golok, peso pangot, dsb. Namun tak ada keterangan yang menyebutkan tentang kujang, baik sebagai perkakas kerja atau senjata perang.
 Hal yang rasanya perlu diperdebatkan lagi tentang jurus-jurus silat (penca) yang dipergunakan dalam berbagai perkelahian. Misalnya saja jurus walet notol, maung luncat muru mencek. Dalam penggambarannya mengingatkan kita pada cerita silat cina Kho Ping Ho atau silat sejenis yang dapat kita baca dalam buku serial Api di Bukit Menoreh karya SH Mintareja.

 Walaupun demikian, beberapa ilmu silat masih sering kita dengar saat ini, walaupun dengan nama yang berbeda, misalnya: salimpet haseup (ilmu agar tidak terlihat dari pandangan orang, yang kini dikenal dengan istilah halimunan), ilmu hiliwir sumping (ilmu untuk mendengarkan suara dari tempat yang jauh), ilmu napak sancang (ilmu untuk berjalan di atas air), ilmu kapas ngapung (ilmu untuk meringankan tubuh), dan sirep (ilmu untuk menidurkan orang lain).
 Kalaupun ada hal yang sedikit mengganggu, adalah bahasanya. Bahasa yang dipergunakan Aan terpengaruh oleh struktur bahasa Sunda. Mungkin karena Aan adalah juga penulis bahasa Sunda yang produktif. Kata-kata berbahasa Sunda, terutama yang berkaitan dengan istilah-istilah pemerintahan, etika, dan ajaran moral, memang sudah semestinya ditulis seutuhnya, namun tetap menggunakan struktur bahasa Indonesia. Tentu saja bahasa Indonesia yang sesuai untuk sebuah novel.
  
Sebuah novel, yang rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja.

No comments:

Post a Comment

Saumpamina aya nu peryogi di komentaran mangga serat di handap. Saran kiritik diperyogikeun pisan kanggo kamajengan eusi blog.