Pages

Saturday, April 20, 2013

Abah Sunarya (Abeng Sunarya) – Dalang Wayang Golek


Abeng Sunarya atau biasa dikenal juga dengan sebutan Abah Sunarya, lahir di Manggahang, Bandung 2 Januari 1920. Ayahnya, Juhari bin Artasim, adalah seorang dalang wayang golek. Abeng Sunarya belajar dalang dari ayahnya (1938), kemudian setelah ayahnya meninggal, belajar kepada dalang Atmaja di Cigebar. Tahun 1940, Sunarya pindah ke Tegallega agar berdekatan dengan dalang R.U Partasuanda untuk belajar lebih lanjut. Tahun 1944, ia mulai tampil sebagai dalang dan namanya kian dikenal. Tahun 1950-an, Abeng Sunarya sudah menjadi salah seorang dalang wayang golek terkenal. Pada tahun 1970-an dan tahun 1980-an, ia berkali-kali diundang untuk mendalang di luar negri, a.l di Prancis dan Swedia (1985).

Disamping sebagai dalang, Sunarya juga membuat wayang golek. Pada tahun 1957, ia mendirikan Padepokan Pusaka Giri Harja sebagai tempat kursus pedalangan wayang golek purwa. Padepokan itu terletak di kampung Jelekong, Ciparay, Bandung.

Banyak muridnya yang kemudian menjadi dalang yang berhasil, diantaranya adalah anak-anaknya sendiri. Dari 13 orang anak, 5 diantaranya menjadi dalang wayang golek purwa terkemuka, yaitu Ade Kosasih Sunarya (Giriharja 2), Asep Sunandar Sunarya (Giriharja 3), Ugan Sunagar Sunarya (Giriharja 4), Iden Subasrana Sunarya (Giriharja 5) dan Agus Supangkat Sunarya (Giriharja 6). Abeng Sunarya pernah menjadi anggota pengurus Yayasan Pedalangan dan PEPADI Kabupaten Bandung.

4 comments:

  1. dari dlu namanya terkenal sebagai dalang yang bertalenta nih gan,mantaapp

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, mudah2an jasa beliau bukan hanya kita kenang namun akan terus dicintai dan di junjung tinggi sebagai nilai budaya kita, dan menciptakan penerus2 berikutnya, amin..

      Delete
  2. Benar2 sang maestro legendaris, menurut saya titisan jiwa seninya menurun ke pak ade kosasih sunarya (alm) giriharja 2 dan pak asep sunandar sunarya giriharja 3, gak ada duanya di dunia

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah2an ada yang melanjtkan lagi di masa yang akan datang, cucu, cicit/atau putra-putri kita bisa menjadi penerus beliau "Ngarumat budaya urang"..

      Delete

Saumpamina aya nu peryogi di komentaran mangga serat di handap. Saran kiritik diperyogikeun pisan kanggo kamajengan eusi blog.