Pages

Friday, June 21, 2013

Era Kejayaan Tasikmalaya di Tangan Bupati RA. Wiratanoeningrat (1908-1937)

Oleh: Muhajir Salam

Sebelum berganti nama, Tasikmalaya adalah salah satu bagian wilayah kabupaten Sukapura. Berdasarkan reorganisasi dalam ind.stb. 1931 no.425 yang diundangkan pada tanggal 1 November 1931, Tasikmalaya dan Ciamis yang termasuk bagian dari Residen Priangan Timur,  masuk menjadi bagian wilayah Residen Priangan Provinsi Jawa Barat. Tasikmalaya adalah kabupaten paling timur residen Priangan, dengan hamparan luas wilayah 4.608 KM2.[1]
Pada tahun 1931, batas wilayah Kabupaten Tasikmalaya adalah, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Garut;  sebelah selatan adalah samudra Hindia; bentangan sungai Citanduy disebelah utara adalah batas Tasikmalaya dengan Kabupaten Ciamis dan Majalengka; sementara bentangan Citanduy di sebelah timur adalah batas Tasikmalaya dengan Jawa Tengah.[2]


Pemerintahan Tasikmalaya era RA. Wiratanoeningrat
Pada tahun 1930, Kabupaten Tasikmalaya dipimpin oleh Bupati RA. Wiratanoeningrat, adalah sosok bupati yang memiliki prestasi yang mengagumkan dalam pentas sejarah pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya. RA. Wiratanoeningrat menjabat bupati Tasikmalaya sejak tahun 1908. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, RA. Wiratanoeningrat dibantu oleh, seorang Patih, bernama R. Rangga Wiriadinata; Pejabat Bupati Kelas I, R. Kosasih Soerakoesoemah; dan Pembatu sekretaris bupati, R. Hardjadiparta.[3]
Di bawah pimpinan RA. Wiratanoeningrat, kabupaten Tasikmalaya terbagi menjadi 10 Distrik (kawadanaan), meliputi; Kawadanaan Tasikmalaya dipimpin oleh R. Adikoesoemah; Kawadanaan Tjiawi dipimpin oleh R. Kandoeroean Soemadipradja; Kawadanaan Manondjaja dipimpin oleh R. Martahadisoerja; Kawadanaan Singaparna dipimpin oleh R. Wiradipoetra; Kawadanaan Taradjoe dipimpin oleh R. Koesnidar; Kawadanaan Karangnoenggal dipimpin oleh R. Naipin; Kawadanaan Tjikatomas dipimpin oleh R. Soemadiningrat; Kawadanaan Bandjar dipimpin oleh R. Rangga Mohammad Soeria Nata Nagara; Kawadanaan Pangandaran dipimpin oleh R. Prawirasastra; dan Kawadanaan Tjijoelang dipimpin oleh R. Somawirja.[4]

Kemajuan Budaya dan Peradaban Tasikmalaya di Awal Abad Modern
Pada masa pemerintahannya, RA. Wiratanoeningrat telah berhasil meletakan fondasi kemajuan budaya dan peradaban Rakyat Tasikmalaya. Ditangan RA. Wira Tanoe Ningrat, Tasikmalaya menoreh kegemilangan yang belum bisa terdandingi dalam pentas sejarah rakyat Tasikmalaya. RA. Wira Tanoe Ningrat bisa disebut “Bapak Modernisasi Priangan”. Kemajuan Tasikmalaya pada masa RA. Wiratanoeningrat diantaranya adalah:
Pertama, bidang pembangunan, sejarah mencatat pesatnya laju pembangunan Tasikmalaya ditandai dengan terealisirnya “mega-project” sarana transportasi yang membuka daerah-daerah pedalaman Tasikmalaya.[5] Pembangunan banyaknya sarana irigasi untuk pengairan lahan pertanian.  Pembangunan fasilitas publik seperti lapangan Olahraga Dadaha dan Pacuan Kuda.
Kedua, bidang pendidikan, ditandai dengan banyak berdirinya sekolah-sekolah rakyat seperti HIS/MULO Pasundan, Kautamaan Istri, Taman Siswa, Muhammadiyah, dll.[6]
Ketiga, bidang Sosial Keagamaan, bersama para ulama Tasikmalaya, RA. Wiratanoeningrat mendirikan sebuah perkumpulan Pemerintah dan Ulama yang dinamai Idharu Baitil Mulukki wal Umaro.[7] Atas dukungan RA. Wiratanoeningrat, pada masa ini banyak berkembang organisasi-organisasi masyarakat seperti Pagoejoeban Pasoendan, Nahdatoel Oelama, Moehammadiyah, Ching Huwa Ching Huwi (CH-CH), Hizboel Waton, Pemuda Anshor dll.[8]
Keempat, bidang Ekonomi, untuk mendorong laju pertumbuhan dan perkembangan indutri kecil, RA. Wiratanoeningrat mendirikan Perkumpulan Duit Hadian (PHD) atau Bank Rakyat. Selain itu, Bupati mendirikan koperasi-koperasi Dagang untuk pengusaha Batik, tenun, dan anyaman. Khusus untuk pengusaha ternak, RA. Wiratanoeningrat mendirikan kumpulan Sangiang Kalang dan Lembu Andini.[9]
Kelima, bidang Media dan Jurnalistik. Pada masa RA. Wiratanoeningrat media cetak koran dan majalah berkembang pesat di Tasikmalaya. Bisa dikatakan, Tasikmalaya merupakan pelopor dalam perkembangan media di Jawa Barat. Bupati RA. Wiratanoeningrat sendiri telah membidani terbitnya sebuah majalan keagamaan bernama al-Imtisal. Namun, yang paling monumental adalah koran Sipatahoenan, tahun 1924, yang digagas oleh Soetisna Sendjaya dan didukung Paguyuban Pasundan. Pada masa itu, media dimanfaatkan sebagai corong gerakan intelektual, wahana gagasan kritis terhadap pemerintah kolonial, selain itu juga dimanfaatkan sebagai wahana informasi bisnis dan perekonomian. Selain sipatahoenan, penulis menemukan banyak koran lainnya yang terbit di Tasikmalaya seperti Tawakal (1936), Balada (1939), Toembal (1938), Lembana (1938), Timbangan (1939)

Komitmen Bupati RA. RA. Wiratanoeningrat untuk Kesejahteraan Rakyat
Bupati RA. Wiratanoeningrat memiliki komitmen yang tinggi untuk kesejahteraan Rakyat Tasikmalaya. Pada masa pemerintahanya, beliau mendirikan Panti Fakir Miskin yang dibiayai dari hasil pungutan zakat fitrah yang diambil dari keluarga bupati dan para pengusaha di Tasikmalaya. Ketertinggalan dan buruknya kesejahteraan rakyat di tenggara Tasikmalaya menjadi perhatian khusus RA. Wiratanoeningrat.
Berbagai catatan sejarah baik lokal maupun kolonial banyak menginformasikan mengenai pembukaan lahan pertanian rawa Lakbok dan rawa Bijoek di sebelah timur Tasikmalaya. Salah satu dokumen Belanda mencatat prestasi Bupati RA. Wiratanoeningrat yang telah merubah Rawa Lakbok dan Rawa Bijoek menjadi lahan pertanian seluas 14.000 ha dengan peralatan tradisonal alakadarnya.[10] Peristiwa monumental ini dicatat rapih oleh R. Muhammad Sabri Wiraatmadja dalam sebuah naskah “Ngabukbak Lakbok”.
Bupati RA. Wiratanoeningrat memimpin langsung proses prubahan Rawa Lakbok menjadi lahan pertanian. Dalam catatan M. Sabri Wiraatmadja, disebutkan perubahan rawa tersebut membutuhkan waktu 12 tahun, dimulai dari tahun 1925 sampai dengan Bupati RA. Wiratanoeningrat meninggal tahun 1937. Peristiwa monumental ini menjadi simbol komitmen Bupati untuk kesejahteraan rakyat Tasikmalaya pada masa itu.  Bahkan setelah Rawa Lakbok berhasil dirubah menjadi lahan pertanian, Bupati RA. Wiratanoeningrat membagikan tanah tersebut kepada rakyat Tasikmalaya Timur dan orang-orang Jawa pendatang dimanfaatkan meningkatkan kesejahteraan hidupnya.[11]
Dinamika Populasi Rakyat: Fenomena Pertumbuhan Orang Eropa dan China di Tasikmalaya
Sejak Tahun 1900, di Tasikmalaya sudah terjadi dialog budaya dan peradaban Sunda, Eropa dan China. Pemicunya adalah pertumbuhan migrasi bangsa Eropa dan Cina ke Tasikmalaya. Berdasarkan data sensus pada tahun 1930[12], penduduk Tasikmalaya berjumlah 886.973 orang, termasuk diantaranya 658 orang Eropa dan 4.617 orang China. Pertambahan jumlah penduduk Eropa dan China di Tasikmalaya dalam tiga dekade berkembang sangat pesat. Hal tersebut, bisa dibandingkan dengan data penduduk tahun 1900, dimana warga Eropa hanya berjumlah 94 orang; dan warga China hanya berjumlah 371 orang.[13]
Fakta pesatnya pertumbuhan jumlah warga Asing di Tasikmalaya seiring dengan semakin pesatnya aktifitas pembangunan dan aktifitas ekonomi di Tasikmalaya pada tahun 30-an. Hal tersebut didorong oleh, pertama, perkembangan alat transportasi dan komunikasi yang ditandai dengan terbangunnya jalur kereta Api yang telah membuka dan menghubungkan Tasikmalaya dengan kota-kota besar lainnya di pulau Jawa; kedua, meningkatnya aktifitas pembangunan prasarana fisik pemerintah kolonial di wilayah Tasikmalaya, baik jalan, irigasi, kereta api, perusahaan tambang, perusahaan perkebunan, dan fasilitas publik lainnya; ketiga, kebijakan kolonial yang membuka akses pendidikan untuk rakyat inlanders telah membuka cakrawala dan budaya baru inlanders yang lebih inklusif; Keempat pertumbuhan media lokal Tasikmalaya, seperti Sipatahoenan, Balaka, Timbangan, Toembal, dll.; kelima, faktor politik internasional Revolusi China dan Perang Dunia memicu gelombang eksodus besar-besaran ke pelosok pulau Jawa. Tentu saja banyak argumentasi lain yang dapat dijadikan alasan atas fenomena ini.

Perkembangan Alat Transportasi: Antara Visi Pengembangan dan Ambisi Ekploitasi
Sejak tahun 1901, melalui Jalur Kereta Api Bandung-Jogjakarta, Tasikmalaya telah menjadi daerah terbuka yang terhubung dengan kota-kota penting di pulau Jawa. Sebagai kabupaten provinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah, Tasikmalaya menjadi daerah yang sangat strategis baik secara politik maupun ekonomi. Stasion Banjar dan Kota Tasikmalaya adalah tempat transit yang sangat strategis untuk jalur lintasan Bandung-Jogjakarta. Dua stasion tersebut menjadi sentra aktifitas ekonomi dan bisnis rakyat Tasikmalaya.
Tasikmalaya adalah wilayah yang “sangat penting” dan “sangat kaya”. Pada tahun 1930, Tasikmalaya sudah memiliki 2 jalur trem yang panjangnya 450 Km,[14] yaitu Jalur Banjar-Kalipucang-Parigi dan Trem Jalur Tasikmalaya-Singaparna. Tentu saja, kehadiran jalur kereta Api tidak terlepas dari ambisi eksploitasi pemerintah kolonial atas kekayaan alam di wilayah Tasikmalaya yang sangat subur dan kaya. Maka tak heran, pemerintah kolonial berani mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk mendanai Mega Project Jalur Kereta Trem Banjar-Parigi via Kalipucang sampe Cijulang pada tahun 1911-1921. Mega project itu telah menghabiskan dana tidak kurang dari f. 9.583.421,-[15] , angka yang sangat fantastis untuk pembangunan pada masa itu.
Berbagai catatan kolonial menyebutkan bahwa Jalur Kereta Banjar-Parigi-Cijulang direncanakan akan dikembangkan menyusuri pantai selatan melalui Cikalong-Cipatujah menuju Pameungpeuk, sampai akhirnya menuju Cibatu-Cikajang kabupaten Garut.[16] Tampaknya, pemerintah pada saat itu merencanakan untuk membuka wilayah Tasikmalaya bagian selatan menjadi daerah lintasan yang terhubung dengan Batavia dan Bandung. Sungguh, ini adalah cita-cita dan pemikiran pengembangan yang sangat maju untuk pengembangan daerah. Dinamika perencanaan pembangunan ini terjadi pada masa pemerintahan RA. Wiratanoeningrat.

Ragam Lokalitas, Aktifitas Ekonomi Kreatif Rakyat Tasikmalaya 
Pada masa pemerintahan Bupati RA. Wiratanoeningrat, rakyat Tasikmalaya menemukan wujud ragam aktifitas ekonomi yang mewarnai corak dan ke-khas-an daerahnya masing-masing. 10 kewadanaan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki karakter dan ragam aktifitas ekonomi yang berbeda-beda. Realitas ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pemerintah kolonial. Berbagai dokumen kolonial pada masa itu selalu menjadikan fenomena aktifitas ekonomi kreatif ini menjadi fokus perhatian yang menjadikan Tasikmalaya memiliki daya pikat tersendiri. Tasikmalaya sangat populer dengan industri kerajinan sejak masa ini.
Wilayah selatan Tasikmalaya, Karangnunggal dan Cikatomas terkonsentrasi pada aktifitas penambangan mangaan dan tembaga yang dikelola perusahaan Eropa. Selain itu, aktifitas ekonomi masyarakat kidul terfokus pada hasil-hasil pertanian terutama buah-buahan seperti durian, dukuh, dll. Budidaya padi huma di wilayah ini berkembang dan sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyat untuk menopang kesejahteraannya. Dokumen kolonial mencatat, dilwilayah Cikatomas dan Manonjaya banyak terdapat pabrik tadisional minyak sereh yang dimiliki oleh orang lokal dan warga Cina, dimana kapasitas produksinya mencapai  15.000 Kg per-bulan.[17]
Wilayah utara Tasikmalaya, mulai dari Ciawi sampai dengan Indihiang, rakyat terkonsentrasi pada budidaya padi sawah dan aneka produksi tanaman kelapa. Selain itu, rakyat disibukan dengan aktifitas industri aneka kerajinan anyaman, khusunya industri topi yang dijual ke Tangerang, tercatat 10.000 Kg per-bulan.[18]
Wilayah tengah Kota Tasikmalaya, aktifitas ekonomi rakyat terkonstrasi pada industri batik dan industri kerajinan payung. Dokumen kolonial mencatat, produk payung Tasikmalaya di ekspor ke seluruh kota-kota di pulau Jawa, sebagian ke Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Rakyat Tasikmalaya menjual payung ke seluruh bagian Indonsia tidak kurang dari 50.000 buah payung perbulan. Sementra di Singaparna, rakyat terkonsentrasi pada aktifitas industri kerajinan tenun dan anyaman rotan. Hasil industri rakyat yang terkenal daerah ini adalah kerajinan topi panama.[19]
Wilayah timur dan tenggara Tasikmalaya (Banjar, Cijulang, dan Pangandaran) aktifitas masyarakat lebih cenderung kepada budidaya padi dan hasil-hasil perkebunan. Berbagai data historis memperlihatkan berbagai aktifitas pembangunan irigasi pemerintah kolonial yang terkonsentrasi di wilayah ini. Maka, banyak sekali terdapat pabrik hasil tani seperti Tapioka, Karet, dll.[20]
Penulis adalah dosen Sejarah Peradaban Islam di STAI Tasikmalaya, dan peneliti Soekapoera Institute


[1] D.G. Stibbe en Mr.Dr.F.J.W.H. Sandbergen. Encyclopedie van Netherlandsch-Indie, Tweede Druk. (‘S-Gravenhage; Matinus Nijhoff, 1939), h.1651.
[2] ibid
[3] Lihat, Regreerings Almanak voor Nederlansch-Indie 1931, Tweede Gedeelte: Kalender en Personalia. (Batavia: Landsdrukkerij, 1931) h. 345
[4] ibid
[5] Lihat, Photo Pembangunan Jembatan Rel Kereta Api Banjar-Parigi dalam COLLECTIE TROPENMUSEUM: Arbeiders poseren op een in aanbouw zijnde spoorbrug op de lijn Bandjar-Parigi
[6] Lihat Catatan Sejarah Sukapura, Susunan Silsilah, Silsilah & Cuplikan Hikayat, Silsilah dan Keturunan. Bandung: Kumpulan Wargi Sukapura, 2002). Hal 5-6 diambil seperlunya
[7] ibid
[8] ibid
[9] ibid
[10] D.G. Stibbe en Mr.Dr.F.J.W.H. Sandbergen. h.1652
[11] H.D. Bastaman, Bupati di Priangan. (Bandung: Pusat Studi Sunda, 2004), hal 68 -70 diambil seperlunya
[12] D.G. Stibbe  h.1651
[13] Joh. F. Senelleman, Encyclopedie van Netherlandsch-Indie, met Medewerking van Verschilnde Ambtenaren, Geleerden en Officirien, Vierde Deel. Leiden: Martinus Nijhoff – E.J. Brill, 1905. H. 284
[14] iibid
[15] Lihat, Agus Mulyana, Titik Balik Hostoriografi di Indonesia. (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008), hal 66
[16] Lihat D.G. Stibbe  h.1651, lihat juga Agus Mulyana, hal 43-47 diambil seperlunya
[17] D.G. Stibbe  h.1652
[18] ibid
[19] ibid
[20] Lihat Photo Pabrik Taipoka di Bandjar dalam COLLECTIE TROPENMUSEUM Tapiocafabriek in Bandjar TMnr 60016893

No comments:

Post a Comment

Saumpamina aya nu peryogi di komentaran mangga serat di handap. Saran kiritik diperyogikeun pisan kanggo kamajengan eusi blog.