Posts

DESKRIPSI KUJANG

by Richadiana Kartakusuma (Admin Salakanagara) Dalam Wacana dan Khasanah Kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakatMasyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memilikinilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang. Kudi diambil dari bahasa SundaKuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat,sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindaribahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untukmelindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atautempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur(Hazeu, 1904 : 405-406) Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagimasyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di...

KARINDING (Dok. Salakanagara)

Karinding adalah waditra karuhun Sunda, terbuat dari pelepah kawung atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dibuat menjadi tiga bagian, yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada (disebut cecet ucing), bagian untuk digenggam, dan bagian panenggeul (pemukul). Jika bagian panenggeul dipukul, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas. Bunyi tersebut bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan napas. Tiga bagian ini merefleksikan juga nilai ,oral dan ajaran yang terkandung dalam karinding, yaitu yakin, sadar, sabar. Dipegang yang yakin, ditabuh yang sabar, dan jika sudah ada suara harus sadar jika itu bukan suara kita.Secara kebahasaan, karinding berasal dari kata ka dan rinding. Ka berarti sumber dan rinding berarti suara.

INGGIT GARNASIHI

Image
Oleh : Natasha Bellania Pertiwi(@achabp) Jika ditanya siapa perempuan indonesia inspiratif bagi saya, salah satunya adalah Ibu Inggit Garnasih. sangat mengagumkan bagi saya, dalam banyak hal. Tak hanya inspiratif, sosoknya yang sederhana, penyayang, keibuan dan memiliki pendirian menjadikannya simbol wanita mandiri. Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kab.Bandung, 17 Februari 1888,dari pasangan Ardjipan dan Amsi. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang hegar, segar, menghidupkan, dan penuh kasih sayang. Menginjak dewasa Garnasih menjadi gadis cantik sehingga ke mana pun ia pergi selalu menjadi perhatian pemuda. Di antara mereka sering melontarkan kata-kata, “Mendapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit.” (Pada saat itu 1 ringgit sama dengan 2,5 gulden dan nilainya tinggi.) Akhirnya, julukan inilah yang merangkai namanya menjadi Inggit Garnasih. Ya, Inggit adalah istri kedua Soekarno. Bisa dikatakan beliau adalah sosok ...

HARI LAHIR DAN WATAK (dok.Salakanagara)

Image
Richadiana Kartakusuma (Admin Salakanagara) HARI LAHIR sangat mempengaruhi watak dan kepribadian kendati tak luput watak dan kepribadian juga dipengaruhi keluarga dan lingkunga sekitarnya (pendidikan, pekerjaan dll) SENIN (SOMA-WARA): Wedal Senin dilambangkan bunga. Sifat dasar dari bunga adalah keindahan jadi tak ada salahnya jika yang lahir di hari senin bisa diberi julukan si Rupawan. Orang-orang ini cenderung narsis dan posesif selalu ceria atau periang selalu membuat kesan humoris pada orang-orang di sekitarnya mempunyai daya pikat yang luar biasa, karena memiliki aura kuat seperti lambangnya = bunga. selalu menjadi pusat perhatian dan orang-orang akan segera menyukaiinya. cocok berkarier di dunia seni hiburan, host adalah profesi yang baik manusia Senin SALASA (ANGGARA-WARA): Wedal selasa dilambangkan api. Sifat dasar api adalah kuat dan hidup. kharismatik. Disegani karena berjiwa pemimpin. mempunyai rasa percaya diri yang tinggi bukannya hanya dalam penamp...

KOTA BANJAR : BANJAR KARANG PAMIDANGAN (Dok.Salakanagara)

Oleh : H.R. Hidayat Suryalaga Secara administratif kewilayahan dan pemerintahan Kota Banjar belum terbilang lama, baru seumur jagung, tetapi dalam peta sejarah kebudayaan Tatar Sunda, kota Banjar telah terbilang lama dikenal dan dikenang orang. Penulis sendiri dilahirkan ke Buana Panca Tengah, ini di sebuah kota kecil – Banjarsari – yang tidak begitu jauh dari kota Banjar ini. Pada awal tahuh 50-an , suatu waktu di satu rumah di daerah Cimenyan dekat “pudunan viaduct”, saya mendengar seorang sesepuh berbincang dengan ayahanda, tentang “Sarsilah Banjar dan Sungai Citanduy” serta beberapa tempat yang dialirinya. Alur cerita dan beberapa pemaknaannya masih ada yang saya ingat. Pada kesempatan sekarang izinkanlah saya memaparkan sedikit tentang yang dibincangkan sesepuh tadi. Dengan harapan pada akhirnya dari esensi yang terkandung dalam cerita ini berkemungkinan untuk dijadikan acuan dan dikaitkan dengan kegiatan kita pada saat ini yaitu “menata ruang dan lingkungan h...

SISKANDANG KARESIAN DAN KUNDANGEUN URANG REYA(dok.Salakanagara)

Dari jaman Siliwangi, kita diwarisi sebuah naskah kuno yang disebut SISKANDANG KARESIAN DAN KUNDANGEUN URANG REYA (untuk pegangan hidup orang banyak). Naskah ini tersiri atas 30 lembar dan pada akhir naskah dicantumkan tahun penulisannya, yaitu NORA CATUR SAGARA WULAN (tahun 1440 (Saka) atau 1518 M. Naskah ini disimpan di Museum Pusat dengan nomor kode KROPAK 630. Sebagian isi dari naskah itu, ada baiknya juga kita ketahui sebagai berikut: 1. Dasakerta (kesejahteraan yang sepuluh) 2. Tapa di Nagara 3. Panca parisuda 4. Hidup yang penuh berkah 5. Parigeuing dan dasa pasanta 6. Tritangtu di bumi (tiga posisi di dunia)

Kehidupan Keagamaan Masyarakat Sunda Kuno (Dok.Salakanagara)

Penemuan-penemuan sejumlah bangunan era Megalitikum mengindikasikan bahwa rakyat Sunda kuno cukup religius. Sebelum pengaruh Hindu dan Buddha tiba di Pulau Jawa, masyarakat Sunda telah mengenal sejumlah kepercayaan, seperti terhadap leluhur, benda-benda angkasa dan alam seperti matahari, bulan, pepohonan, sungai, dan lain-lain. Pengenalan terhadap teknik bercocok tanam (ladang) dan beternak, membuat masyarakat percaya terhadap kekuatan alam. Untuk mengungkapkan rasa bersyukur atas karunia yang diberikan oleh alam, mereka lalu melakukan upacara ritual yang dipersembahkan bagi alam. Karena itu, mereka percaya bahwa alam beserta isinya memiliki kekuatan yang tak bisa dijangkau oleh akal dan pikiran mereka. Dalam melaksanakan ritual atau upacara keagamaan, masyarakat prasejarah itu berkumpul di komplek batu-batu besar (megalit) seperti punden-berundak (bangunan bertingkat-tingkat untuk pemujaan), menhir (tugu batu sebagai tempat pemujaan), sarkofagus (bangunan berbentuk ...