Posts

Showing posts with the label Tokoh Sunda

Wedana Bupati (dok.salakanagara)

Prabu Geusan Ulun merupakan raja Sumedang Larang pertama yang memiliki keabsyahan sebagai penerus tahta Pajajaran, setelah Jayaperkosa menyerahkan atribut raja Pajajaran dan 44 Kandaga Lante serta 4 umbul, namun ia juga raja terakhir dari Kerajaan Sumedang Larang, karena para penerusnya hanyalah setingkat bupati. Geusan Ulun wafat pada tanggal 7 bagian gelap bulan Kartika tahun 1530 Saka, bertepatan dengan 5 November 1608 M, Ia dimakamkan di Dayeuh Luhur. Sebagai pengganti Geusan Ulun ditunjuk Pangeran Arya Suriadiwangsa putranya dari Harisbaya. Didalam Babad Pajajaran Pangeran Arya Suriadiwangsa disebut Pangeran Seda (ing) Mataram. Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri, pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru ; istri kedua Ratu Harisbaya, dan istri ketiga Nyi Mas Pasarean. Namun yang menjadi pertanyaan sampai sekarang, alasan apakah yang mendorong Prabu Geusan Ulun memberikan tahtanya kepada Pangeran Aria Suradiwangsa, padahal ia anak dari istri kedua, bukan kepada Rangga Gede ...

Wayang Golek Bambang Sukmasajati ku H. Asep Sunandar Sunarya Giriharja III

Image

SEJARAH TASIKMALAYA DALAM VIDEO

Image

INGGIT GARNASIHI

Image
Oleh : Natasha Bellania Pertiwi(@achabp) Jika ditanya siapa perempuan indonesia inspiratif bagi saya, salah satunya adalah Ibu Inggit Garnasih. sangat mengagumkan bagi saya, dalam banyak hal. Tak hanya inspiratif, sosoknya yang sederhana, penyayang, keibuan dan memiliki pendirian menjadikannya simbol wanita mandiri. Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kab.Bandung, 17 Februari 1888,dari pasangan Ardjipan dan Amsi. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang hegar, segar, menghidupkan, dan penuh kasih sayang. Menginjak dewasa Garnasih menjadi gadis cantik sehingga ke mana pun ia pergi selalu menjadi perhatian pemuda. Di antara mereka sering melontarkan kata-kata, “Mendapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit.” (Pada saat itu 1 ringgit sama dengan 2,5 gulden dan nilainya tinggi.) Akhirnya, julukan inilah yang merangkai namanya menjadi Inggit Garnasih. Ya, Inggit adalah istri kedua Soekarno. Bisa dikatakan beliau adalah sosok ...

HARI LAHIR DAN WATAK (dok.Salakanagara)

Image
Richadiana Kartakusuma (Admin Salakanagara) HARI LAHIR sangat mempengaruhi watak dan kepribadian kendati tak luput watak dan kepribadian juga dipengaruhi keluarga dan lingkunga sekitarnya (pendidikan, pekerjaan dll) SENIN (SOMA-WARA): Wedal Senin dilambangkan bunga. Sifat dasar dari bunga adalah keindahan jadi tak ada salahnya jika yang lahir di hari senin bisa diberi julukan si Rupawan. Orang-orang ini cenderung narsis dan posesif selalu ceria atau periang selalu membuat kesan humoris pada orang-orang di sekitarnya mempunyai daya pikat yang luar biasa, karena memiliki aura kuat seperti lambangnya = bunga. selalu menjadi pusat perhatian dan orang-orang akan segera menyukaiinya. cocok berkarier di dunia seni hiburan, host adalah profesi yang baik manusia Senin SALASA (ANGGARA-WARA): Wedal selasa dilambangkan api. Sifat dasar api adalah kuat dan hidup. kharismatik. Disegani karena berjiwa pemimpin. mempunyai rasa percaya diri yang tinggi bukannya hanya dalam penamp...

PRABU SILIWANGI BERDASARKAN PARADIGMA REALISME METAFISIK

Oleh:Muhamad Fajar Laksana Cerita yang telah melegenda tentang Raja Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi menjadi sebuah wacana milik bersama seluruh rakyat Indonesia bahkan menjadi kajian yang tidak pernah selesai, akibat terbatasnya dunia akademisi dan ilmiah membongkar eksistensi dan historikal dari Prabu Siliwangi. Hal ini menjadi permasalahan Metafisik yang tidak ada akhirnya dalam pembahasan di dunia akademisi, seperti yang dikemukakan oleh Kant. Menurut Kant dalam bukunya Critique of Pure Reason, akal budi manusia di dalam suatu lingkungan kognisinya mempunyai hakikat sedemikian rupa, sehingga manusia tidak tahan untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai dunia yang sesuai dengan hakikat akal budi-nya, yang tak akan pernah mereka ketahui jawaban-jawabannya. Akal budi manusia memulai sesuatu dengan prinsip-prinsip yang tidak dapat disalurkan lewat pengalaman, dimana pada waktu yang sama pengalaman dapat memastikan kebenaran. Dengan prinsip-prinsip terseb...

ALUNAN SUARA NYAI SUBANG LARANG YANG MELULUHKAN KERAS HATINYA PRABU SILIWANGI (Dok.Salakanagara)

Pada Tahun 1409 Ki Gedeng Tapa dan anaknya nyai Subang Larang,penguasan Syahbandar Muara Jati Cirebon, menyambut kedatangan pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Muslim Cheng Ho ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo (Dinasti Ming 1363-1644) memimpin misi muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan Nusantara (1405-1430). Membawa pasukan muslim 27.000 dengan 62 kapal. Misi muhibah Laksamana Cheng Ho tidak melakukan perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya. Oleh karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut gembira oleh Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon. Di Cirebon Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar.

R.A.A WIRANATA KUSUMAH (dok.Salakanagara)

Image
”Enam tahun lamanya saya hidup sebagai seorang Barat dalam pergaulan orang Barat. Setelah itu saya tiba-tiba mesti menjadi bumiputra yang sejatinja pula, harus berlaku menurut adat tertip sopan Bumiputera. Susah benar saya mengusahakan diri saya supaya sesuai dengan keadaan tempat saya. Walaupun demikian tiada sempat juga saya mengetahui sekalian adat kebiasaan bumiputera…”(R.A.A Wiranatakusumah) Tokoh kita ini adalah Raden Adipati Aria Muharam Wiranatakusumah. Muharam adalah nama kecilnya. Wiranatakusumah V adalah gelarnya sebagai Bupati Bandung. Ia lahir di Bandung, 8 Agustus 1888. Versi lain menyebutkan 23 November 1888. Wiranatakusumah adalah putra dari pasangan R. Adipati Kusumahdilaga dan R. A. Soekarsih. Ayahnya adalah Bupati Bandung (1874-1893). Ketika Muharam berusia lima tahun, ayahnya wafat. Ia lalu diasuh dan dididik oleh ibunya hingga usia sembilan tahun. Setelah ayahnya mangkat, ditunjuklah tiga orang sebagai walinya, yaitu R. Martanagara (Bupati Band...

MANGSA MEDAL PRABU SILIWANGI ( Milangkala Prabu Siliwangi )

Image
Kintunan : LUKI MUHARAM Ieu tulisan teh minangka pangemut-emut ka Kang Anis Djati Sunda sawaktu masih keneh jumemeng. Kang Anis teh remen dijadikeun rujukan Kasundaan kusasaha, hiji waktu inyana nga sms nu ngabarkeun yen naskah ngeunaan milangkala Prabu Siliwangi kapanggih deui sanggeus leungit puluhan taun, kieu riwayatna anu kungsi dimuat di tabloid Galura sawatara taun nu geus kalarung, mangga nyanggakeun manawi kaanggo: Hiji waktu sawaktu Kang Anis masih keneh jumeneng ngirim sms ka sim kuring anu eusina mere kabar ngaliwatan sms yen naskah mangsa medal Prabu Siliwangi anu kungsi leungit kalayan misterius salila puluhan taun geus kapanggih deui , tuluy sanggeus tepung diimahna di Jln. Veteran I, Gang Kaum IV no. 88 Kota Sukabumi, Anis masrahkeun fotokopian tulisanna anu aya katerangan mangsa lahirna Sri Baduga Maharaja / Prabu Siliwangi. “ Katerangan ieu kungsi rek dimuat dina buku Sejarah Jawa Barat sawaktu gubernurna Bapa Solihin GP. Diantara anggota tim pan...

TIGA PRABU WANGI (Dok Salakanagara)

Kiriman : Raden Wiraatmadja Lingga Dewata berkuasa di Pakuan pada tahun 1311 – 1333 masehi. Lingga Dewata diperkirakan menjadi raja peralihan yang memindahkan pusat kerajaan Sunda ke Kawali, karena ia di makamkan di Kikis. Kemudian digantikan oleh Ajiguna Wisesa dengan gelar Prabu Ajiguna Linggawisesa (1333 - 1340) disebut-sebut sebagai raja Sunda pertama yang berkedudukan di Kawali. Ajiguna Linggawisesa adalah menantu dari Lingga Dewata yang menikah dengan Dewi Uma Lestari atau Ratu Santika. Didalam versi lainnya disebutkan suami dari adik Lingga Dewata, yang menikah dengan Ratna Uma Lestari, putrinya Prabu Citraganda. Tentang muasal Ajiguna Wisesa kurang terlacak, jika dikaitkan dengan Suryadewata, putranya yang menjadi leluhur Talaga, mungkin pula ia berasal dari daerah Talaga. Dari pernikahannya dengan Dewi Uma Lestari melahirkan dua orang putra, yakni Ragamulya dan Suryadewata. Ragamulya menggantikan Ajiguna Linggawisesa. Dalam Carita Parahyangan disebut ...

RADEN WIJAYA CUCU RAJA SUNDA

(Kutipan Buku Sundakala karangan Prof. Ayatrohaedi, dan dari berbagai sumber serta penelusuran) Kintunan : Hendy Kurnia Salah satu ciri bangsa yang kuat adalah penghayatannya kepada sejarah, karena penghayatan kepada sejarah bangsa akan memperkuat jatidiri bangsa yang bersangkutan. Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa pada abad ke-12 di Nusantara pernah berdiri Negara Majapahit yang wilayahnya melampaui luas NKRI saat ini. Negara Majapahit itu didirikan oleh Raden Wijaya atau Sanggrama Wijaya. Kisah menarik Majapahit bukan saja tentang luasnya kekuasaan dan tingginya peradaban yang telah dicapai, namun ada juga sepenggal cerita tragis yang disebut-sebut sebagai ‘aib sejarah’ sehingga sejarawan yang hidup kala itu, Mpu Prapanca, tidak sudi menuliskannya dalam buku karangannya yang tersohor, Nagara Kertagama. Kisah tragis itu dikenal sebagai ‘Palagan Bubat’ atau ‘Perang Bubat’ yang terjadi tahun 1357 menurut naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara sarga ke-3 hala...

Makam Prabu Hayam Wuruk Kapanggih di Walahir, Paséh

Kintunan : Kang Aan Merdeka Permana WILAYAH Kabupatén Bandung tétéla boga ajén mandiri pikeun wargana. Naon sababna kitu, sabab ceuk maranéhna, di tempatna euyeub ku titinggal sajarah. Saha anu nyangka yén makam Bunisora (adina Prabu Linggabuana) aya di Kampung Walahir? Anu leuwih ngagebeg, tétéla deuih Prabu Hayam Wuruk ti Majapahit ogé, makamna aya di éta tempat. NAHA enya kitu? Bisa waé. Da bongan aya masarakat nu boga pamanggih sarupa kitu. Anu dipaké pikeun pituduh awal, pédah aya anu kungsi nyebutkeun yén di Gunung Batutulis, Kacamatan Ibun, Kabupatén Bandung, aya makam Hayam Wuruk. Malah, lain makam Hayam Wuruk waé, dalah di handapeunana aya deuih hiji makam deui. Anu ieu mah nyaéta makam Prabu Mangkubumi Bunisora. Ieu dua tokoh sajarah kahirupan mangsa lawas téh, makamna teu pati jauh. Perenahna di Kampung Néglasari Desa Loa, Kacamatan Paséh, Kabupatén Bandung. Naha makam Bunisora jeung makam Hayam Wuruk bet aya di dinya? Ah, da teu kudu anéh. Soal dimaka...

IHWAL PERANG BUBAT

  Oleh : Aan Merdeka Permana KOMENTAR PUTRI DYAH PITALOKA TENTANG PERANG BUBAT : Bubat itu hanyalah tempat yang dipilih Hyang (Tuhan) untuk menentukan nasib. Semua orang harus percaya kepada apa yang jadi kenyataan. Bila takdir sudah ditentukan begitu, maka semua harus menerima. Saya memang berduka tapi saya tetap menerima, menerima! Inilah ucapan selengkapnya dalam bahasa asli yang dia sampaikan “Bubat teh sangakala wacana tur hidep kudu percanten kana nyata kanyataanana. Nu karaos ku kula, pati mulang nurug na’ jero batin. Takdir tos guratna, janten galang teh kedah jurag. Kula nampi mung duka ge aya. Ngan sangakala kedah, Gusti tos janten dikieuna. Kula nampi ... nampi” (Terjemahan bebas: “Peristiwa di Bubat adalah sebuah keputusan. Engkau harus mempercayai kenyataan yang sudah berlangsung. Bila takdir sudah menentukan begitu, maka semua harus menerima. Yang tengah aku rasakan, kematian ini sudah terasa di batin. Memang ini suratan takdir jadi hati harus ...

Wangsit Siliwangi tentang Soekarno

Membaca buku buku ramalan tidak akan pernah membosankan, terlepas dari absurd dan ngawurnya sebuah ramalan. Namun pesona Nostradamus berhasil menyihir para pengikutnya karena kredibilitas ramalan ramalannya. Yang paling spektakuler tentu saja ramalan tentang serangan terhadap menara kembar World Trade Center, NY. Di negeri ini orang yang paling getol mengutip ramalan ramalannya adalah Permadi, SH. Seorang paranormal yang juga politikus. Dan ramalannya adalah Indonesia bakal menjadi negeri gilang gemilang! Amin! Nostradamus adalah orang Prancis yang Katolik sekaligus Yahudi. Lahir pada tahun 1503, kurang lebih saat VOC mulai datang ke Sunda Kalapa. Mungkin sumber ajarannya adalah Talmud dan  kabbalah  yang misterius itu.  Uniknya dia lulus sebagai dokter dari Universitas Montpellier yang sangat dihormati kala itu. Namun sebuah tragedi menyebabkan istri dan dua anaknya meninggal. Didorong kehilangan yang menyakitkan itu, dia berkelana ke berbagai wilayah dari...

PANGERAN PAPAK, PEJUANG TERAKHIR DARI PAKUAN PAJAJARAN

Tak ada hal yang unik di wilayah Kelapa Gading, termasuk pula kehidupan masyarakat Kelapa Gading tempo dulu selain mencari ikan. Ya, kondisi ini memang sangat mendukung, apalagi Kelapa Gading dulunya merupakan hamparan rawa yang luas dan bernama Rawa Kucing sebelum menjadi Kelapa Gading saat ini. selain itu, masyarakat juga bertani, karena selain rawa, di daerah Kelapa Gading sampai Pegangsaan ditanami padi. Di samping itu wilayah Kelapa Gading dulunya juga terkenal aman, tak terdengar ada tindak kriminalitas. Namun, satu hal yang unik di Kelapa Gading adalah di sana terdapat kuburan Pangeran Papak. Kuburan ini sampai saat ini masih ada, di lokasi yang persis di sebelum masuk perempatan Boulevard, Pulomas, dan Jalan Perintis Kemerdekaan. Selain kuburan Pangeran Papak, juga terdapat kuburan Kuwu (sekretaris desa) Pulogadung. Di daerah kuburan, tak ada yang bertinggal, kecuali pedagang buah, dan kondisi kuburan sampai saat ini terawat baik.

TARUMANAGARA

Image
Karajaan Gede Di Nusantara   Dina taun 348 Masehi, aya saurang maharesi hindu ti kulawarga Calankayana ngungsi ka pulo-pulo kiduleun India. Inditna diiring ku murid-muridna, tentara, rahayat awewe-lalaki, sabab nagarana diburak-barik ku raja Samudragupta. Jenengan eta maharesi teh Jayasingawarman, anjog ka pulo Jawa tuluy matuh di Jawadwipa bang kulwan (Jawa Barat), sanggeus samemehna meunang pangbagea tur diidinan ku Sang Prabu Dewawarman VIII (Raja Salakanagara), nu jenengan aslina Darmawirya, teureuh kulawarga Palawa, sarua aki-buyutna papada pangungsi ti India. Sang Maharesi Jayasingawarman nyieun babakan pamatuhan di sisi walungan Citarum. Kulantaran beuki lila jadi kajojo tur loba jalma nu marilu matuh, antukna nepi ka jadi desa, disebut desa Taruma. Sapuluh taun ti harita eta desa teh ngalegaan, nepika jadi kota = nagara, atuh katelahna Tarumanagara. Sang Maharesi dipulung minantu ku Sang Prabu dewawarman VIII, dijodokeun ka Dewi Iswari Tunggal Pertiwi...

Biografi Syeikh Abdul Muhyi, Sejarah Goa Pamijahan dan Larangannya (Dok. http://ppal-itqon.blogspot.com)

Image
Biografi Syeikh Abdul Muhyi, Sejarah ditemukannya Goa Pamijahan, dan Sejarah dilarangnya merokok di Pamijahan Syeikh Haji Abdul Muhyi lahir di Mataram sekitar tahun 1650 M /1071 H dan dibesarkan oleh orang tuanya di kota Gresik/ Ampel. Beliau selalu mendapat pendidikan agama baik dari orang tua maupun dari ulama-ulama sekitar Ampel. Karena ketekunannya menuntut ilmu disertai dengan ibadah disamping kesederhanaan dan kewibawaan yang menempel di dalam diri beliau maka tak heran jika teman-teman sebaya selalu menghormati dan menyeganinya.

Relasi antara Budaya Islam dan Budaya Sunda

Oleh ENUNG SUDRAJAT Meuncit meri dina rakit Boboko wadah bakatul Lain nyeri ku panyakit Kabogoh direbut batur SEBAGAI bagian dari kreativitas orang Sunda, paparikan di atas termasuk jeprut, kalau dilihat secara bahasa. Tapi dalam pandangan axiologis paparikan tersebut terasa fenomena ekologis terlihat pada hubungan kata meri, rakit dan boboko, makna ekologis yang berdimensi antropologis bisa ditelurusi jika meri dinisbahkan kepada hewan Ovivar yang hidup di daerah basah (Lendo). Rakit dan boboko mempunyai bahan yang sama yaitu bambu (biasanya hidup pada ketinggian 100-500 dpl, daerah ini biasanya berada di antara gunung (bukit) dan penampung air (susukan). Bakatul sebagai bagian dari penggilingan padi setelah dipilih (diayak) dinisbahkan bahwa dalam proses tersebut terdapat proses yang sinergis antara unsur tektur tanah, air, perilaku manusianya. Kebudayaan jika ditafsirkan sebagai hasil kreativitas manusia (perilaku manusia) ketika berinteraksi dengan lin...

Sunan Gunung Djati dan Islamisasi di Jawa Barat

Oleh SULASMAN   PENYEBARAN Islam di Nusantara, merupakan suatu proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Akan tetapi, fase ini juga merupakan masa yang kurang jelas. Hal ini, menurut Ricklefs (1981) dalam  A History of Modern Indonesia , karena  ternyata di beberapa bagian Indonesia telah ada dan bermukim para pedagang Arab. Mereka mendapat kedudukan yang kokoh dalam masyarakat lokal. Ini telah berlangsung selama berabad-abad.  Mengenai hal ini telah terjadi perdebatan panjang antara para ahli sejarah, mengenai kapan, mengapa, dan bagaimana penduduk Nusantara  menganut agama Islam.  Dengan demikian, maka banyak teori yang dikemukakan mengenai  kedatangan Islam di Nusantara. Teori-teori  yang ada banyak menunjukan perbedaan-perbedaan, terutama mengenai waktu dan negeri asal pembawanya.  Di antara teori-teori yang banyak dikemukakan secara grand theory   terdapat tiga teori yaitu Teori Mekah  ya...

SITUS KABUYUTAN NAGARA TENGAH (dok.Salakanagara)

Image
Nama Nagaratengah sudah ada sejak jaman Kerajaan Galuh Hindu, ketika kerajaan berbentuk federasi. Mahaprabu Galuh membagi kerajaan yang salah satu diantaranya adalah Kerajaan Galuh Nagaratengah yang diperintah oleh Prabu Agung Danumaya dengan jumlah rakyat mencapai ± 1000 orang. Kemudian dilanjutkan oleh Prabu Wangsa Dedaha, lalu oleh Prabu Agung Ranggakusumah. Ketika Cipta Sanghyang Permana naik tahta sebagai Mahaprabu Galuh, ibukota kerajaan (dayeuh) pindah ke Nagaratengah. Letak ibukota antara sungai Cihapitan dan Cibodas (Sayung Desa Karanglayung) Kemudian penggantinya adalah Mahaprabu Cipta Permana (sebelumnya berdiam di Cimaragas) yang sudah memeluk agama Islam dan membagi kerajaan menjadi 6 Kerajaan kecil (Kadaleman). Selanjutnya, Kadaleman Nagaratengah dibangun pada 1583 oleh Pangeran Aria Panji Subrata. jarak lk. 25 km dari pusat kota Tasikmalaya, luas 3 Ha, berbagai situs yang ada : 1. Desa Nagaratengah a. Dusun Mekarsari Di dusun ini terdapat ...