Posts

Iket Mengikat Loyalitas Budaya

“ Nu lima diopatkeun. Nu opat ditilukeun. Nu tilu, diduakeun. Nu dua, dihijikeun. Nu hiji jadi kasep (Yang lima dijadikan empat. Yang empat dijadikan tiga. Yang tiga dijadikan dua. Yang dua dijadikan satu. Yang satu menjadi tampan)”. KALIMAT itu diucapkan pengajar Filsafat Seni Prof Yakob Sumardjo saat mengajar mahasiswa pascasarjana di Sekolah tinggi Seni Indonesia (STSI), Kota Banding. Menurut dia, filsafat sunda yang merujuk alam. Apakah kalimat tadi dikenal di kalangan orang Sunda masa kini? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mari melihat ke fenomena yang muncul kini, saat iket menjadi tren di kalangan anak muda. Iket semula digunakan oleh masyarakat adat, namun sekarang tak lagi demikian. Anak-anak muda dengan berbagai macam motif dan gaya memakai iket tampak di setiap sudut Kota Bandung. Ada apakah ini? Terlalu banyak pertanyaan yang muncul. Tokoh masyarakat Sunda, Eka Santosa mengurai sejumlah jawaban yang memungkinkan hal itu terjadi. Menururt Eka, fenomena ...

Tantangan “Kearifan” Budaya Sunda

Kerangka acuan atau term of reference (TOR) yang diajukan panitia penyelenggara diskusi akhir tahun Pikiran Rakyat berpangkal pada banyaknya seniman Jawa Barat terkenal yang meninggal dunia pada 2010. Inti soal yang diajukan, sejauh mana “kesiapan” masyarakat Jawa Barat umumnya, sepeninggalnya para mendiang itu: tentang dokumen-dokumen yang ditinggalkannya, dan seperti apa harapan berlanjutnya “tradisi” kreativitas berkesenian pada generasi penerusnya. Untuk mendiskusikannya secara konkret, dan untuk upaya perancangan agenda strategis ke depan, saya kira kita perlu mengadakan inventarisasi dan pemetaan permasalahannya. Dalam diskusi pertama ini, saya akan menyampaikan dasar-dasar pemikiran lain, yang walaupun tidak langsung mengarah pada pemasalahan di atas, merupakan soal dasar yang menurut saya perlu dicermati. Pertama adalah tentang Jawa Barat dan Sunda. Sampai sepuluh tahun yang lalu, Jawa Barat umumnya dianggap identik dengan Sunda, karena penghuni mayoritasnya ...

Sejarah di Laut, Jawa Barat Pernah Jaya

Image
Berkecamuknya era Perang II (tahun 1939-1945) di Eropa dan Asia-Pasifik, banyak membawa catatan histories bagi yang terlibat. Selama perang besar itu, nama-nama daerah asal Jawa Barat, sebenarnya ikut manggung pada kurung waktu 1942-1945 melalui nama sejumlah kapal angkut milik Belanda. Hampir 20 buah kapal bernama khas Pasundan, ikut beroperasi di Samudra Atlantik, Samudra Hindia, Samudra Pasifik, Laut Cina, dll, digunakan pasukan Sekutu (Inggris, Amerika, Belanda) menghadapi Nazi Jerman dan Jepang. Kapal-kapal itu adalah steamship (SS/kapal uap) dan motorship (MS/kapal motor), yaitu SS Soekaboemi, SS Garoet, SS Tjileboet, SS Tjimenteng, MS Tjisadane, MS Tjitjalengka, SS Tjisalak, SS Tjisaroea, SS Tjinegara, SS Tjibadak, SS Tjibesar, SS Buitenzorg (sekarang Bogor) Selama perang, semua kapal dimaksud digunakan mengangkut logistik, pasukan, dan sebagai kapal rumah sakit. Berbagai kapal itu dibangun tahun 1916-1926, dengan pengoperasian semula kapal penumpa...

Sudah “Etnis”, Lupa “Suku”

Oleh: Hawe Setiawan DALAM bahasa Indonesia baku, kata etnis adalah adjektiva alias kata sifat. Kata itu dipakai untuk menerangkan kata yang mendahuluinya. Contohnya, istilah kelompok etnis berarti sekelompok orang yang memperhatikan ciri-ciri entis tertentu. Bahasa Indoensia menyerap kata etnis dari bahasa Inggris. Istilah aslinya adalah ethnic . Dalam bahasa Inggris, kata ethnic terutama berfungsi sebagai kata sifat, tapi sepertinya dapat juga berfungsi sebagai kata benda alias nomina. Salah satu variannya adalah ethnicity , yang dalam bahasa Indonesia biasanya dijadikan etnisitas, yaitu keadaan yang menunjukan ciri-ciri sekelompok orang. Uniknya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi 2008, kata etnis hanya diserap sebagai kata sifat. Di situ diterangkan bahwa etnis adalah adjektiva dalam bidang antoropologi yang “berkenaan dengan ilmu tentang persebaran, kedaaan jasmani, adat istiadat, dan cara hidup berbagai macam orang”. Meski begitu, banyak penutur ba...

Kujang bukan Senjata

Oleh: Ajip Rosidi, Ketua Dewan Yayasan Kebudayaan Rancage PADA awal tahun 1950-an, dalam masyarakat Sunda timbul ketidakpuasan terhadap orang Jawa, sehingga timbul gerakan kasundaan baik di kalangan orang-orang yang sudah aktif dalam gerakan kasundaan sejak sebelum perang, maupun di kalangan para pemuda dan mahasiswa. Tokoh-tokoh Sunda yang sudak aktif sejak masa sebelum perang seperti Ema Bratakusumah, Soetisn (Soetisna Sendjadja), Iwa Koesoemasoemantri, Otong Kosasih, Djoearsa, Joedakoesomah, dll. yang mendirikan organisasi al. Daya Sunda, Badan Musawarah Sunda, dll. Sedang para mahasiswa dan pemuda di Bandung, Bogor dan Jakarta seperti Adjam Syamsupradja, Hasan Wargakusumah, Saikin Suriawidjaja, Alibasjah Natapradja, dll, mendirikan organisasi al. Nonoman Sunda, Putra Sunda, Daya Nonoman Sunda, Front Pemuda Sunda dll. Dalam majalah-majalah bahasa Sunda yang terbit waktu itu terutama dalam Kalawarta Kudjang (Bandung) dan majalah Warga (Bogor), banyak dimuat tulisa...

Gunung Salak: Eksotisme Tradisi dan Panorama (Dok.Salakanagara)

Image
Oleh: Mohammad Fathi Royyani, Peneliti LIPI. “Buitenzorg adalah tempat tinggal yang sangat menyenangkan. Daerah ini cukup tinggi sehingga terasa nyaman bagi orang yang tinggal di dataran rendah. Pemandangan alam di sini sangat indah dan tanahnya subur. Gunung Salak, sebuah gunung berapi yang puncaknya terpotong dan bergerigi, menjadi latar belakang yang khas bagi bentangan alam di sekitarnya”. Itu adalah kesaksian dari Wallace, seorang ilmuawan berkebangsaan Inggris ketika mengunjungi daerah Bogor dalam rangkaian penjelajahan ilmiahnya. Bogor dengan gunung Salaknya telah mempesonakan Wallace, bahkan tidak hanya Wallace, banyak ilmuan lain yang sangat tertarik dengan keberadaan gunung Salak. Pesona yang ditawarkan gunung Salak tidak terbatas pada keindahan alamnya melainkan juga kenakeragaman hayati, hewani, dan juga keakraban masyarakatnya yang masih masih menyuguhkan kearifan tradisional. Diantara ilmuawan yang tercatat dalam lintasan sejarah yang tersedot oleh ...

KARAJAAN SUMEDANG LARANG (Dok. Salakanagara)

Image
Hasil Tim Peneliti sejarah Jawa Barat, dicaritakeun deui, ku Asep Idjuddin. Nurutkeun catetan Bujanggga Manik,deukeut gunung Tompo Omas, aya karajaan Medang Kahyangan, Ngaran eta karajaan kacatet oge dina naskah Carita Parahyangan mangrupa sasaran anu diserang ku Cirebon, dina mangsa kakawasaan Surawisesa. Can jelas naha aya patalina antara Sumedanglarang (larang=rata/datar, padalarang= rata/datar kabeh)jeung Medang Kahyangan? Ngan basa Bujangga Manik datang ka Medang Kahyangan, Sumedanglarang harita geus ngadeg nu puseur dayeuhna di Cipamengpeuk, deukeut kota Sumedang ayeuna. Teu mustahil Bujangga Manik ngambah jalan sisi kaler gunung Tampomas. Sabab harita keur di perjalanan antara Cipunagara (kecamatan Cisalak, Subang) jeung Padabeunghar, kalereun gunung Cereme. Lamun Sumedanglarang teh Medang Kahyangan tangtu kudu nguriling ka kalereun gunung Tampomas. Jalan kalereun gunung Tampomas teh kungsi dipake ku VOC keur ngakut mariem, jeung amunisi, nohonan pamenta Bup...