Posts

MENGUNGKAP JEJAK KERAJAAN JAPURA DI SUBANG (Dok.Salakanagara)

Image
Kawasan Teluk Agung Muara Jati di Desa Nanggerang, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang diyakini sebagai bekas Kerajaan Japura yang berdiri di abad ke-14. Kondisi itu membuat pemerintah setempat berusaha melindunginya. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Herdiwan Iing Surantamengatakan, pihaknya siap menggelontorkan anggaran untuk melindungi serta mengembangkan kawasan bersejarah tersebut. Menurutnya, situs kabuyutan Tanjung Agung Muara Jati banyak mengandung peninggalan sejarah masa lalu Kerajaan Japura atau yang dikenal Nyi Subanglarang. “Untuk sementara, kami menyiapkan anggaran sebesar Rp 500 juta untuk pembenahan dan pembangunan pagar situs,” ungkap Herdiwan. Namun,untuk perlindungan budaya, Herdiwan meminta pengurus yayasan Subanglarang untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar benda-benda bersejarah yang ditemukan sebaiknya diserahkan ke yayasan. Pihak yayasan juga harus mencegah upaya penggalian liar yang jelas bisa merusak keberadaan situs. ...

Kehidupan Keagamaan MASARAKAT SUNDA KUNO (Dok.Salakanagara)

Image
Penemuan-penemuan sejumlah bangunan era Megalitikum mengindikasikan bahwa rakyat Sunda kuno cukup religius. Sebelum pengaruh Hindu dan Buddha tiba di Pulau Jawa, masyarakat Sunda telah mengenal sejumlah kepercayaan, seperti terhadap leluhur, benda-benda angkasa dan alam seperti matahari, bulan, pepohonan, sungai, dan lain-lain. Pengenalan terhadap teknik bercocok tanam (ladang) dan beternak, membuat masyarakat percaya terhadap kekuatan alam. Untuk mengungkapkan rasa bersyukur atas karunia yang diberikan oleh alam, mereka lalu melakukan upacara ritual yang dipersembahkan bagi alam. Karena itu, mereka percaya bahwa alam beserta isinya memiliki kekuatan yang tak bisa dijangkau oleh akal dan pikiran mereka. Dalam melaksanakan ritual atau upacara keagamaan, masyarakat prasejarah itu berkumpul di komplek batu-batu besar (megalit) seperti punden-berundak (bangunan bertingkat-tingkat untuk pemujaan), menhir (tugu batu sebagai tempat pemujaan), sarkofagus (bangunan berbentuk ...

SIKEP URANG SUNDA NU ALUS PIKEUN KAMAJUAN SUNDA

URANG SUNDA TEH KUDU : 1.Congo nyurup kana puhu, ka luhur sirungan ka handap akaran. 2. Cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer. 3. Nu weruh ka semuna apal ka basana, rancingas rasana, rancage hatena. 4. Nu bisa ngajaga panon ku awasna, ngajaga ceuli ku dengena, ngajaga letah ku ucapna, ngajaga hate ku ikhlasna. 5. Subur di lembur, bagja di kota. 6. Heug urang teundeun di handeuleum sieum, geusan sampeureun. cag urang tunda di hanjuang siang, geusan alaeun. 7. Bru di juru, bro di panto, ngalayah di tengah imah, rea ketan, rea keton, buncir leuit, loba duit. Di hareup undeureun, di tukang alaeun, di pipir petikeun, di kolong aya si jambrong, na parango aya si jago.

RUPA-RUPA LEUMPANG - dok Salakanagara

(Pangdeudeul pangajaran basa Sunda) Ku: Iing Firmansyah Boyot = leumpang kendor bangun beurat awak. Déog/péngkor = leumpang dingdet lantaran suku nu sabeulah rada pondok. Dohot-dohot = leumpang lalaunan bari semu dodongkoan cara peta nu ngadodoho. Égang/égol = leumpang cara budak nu anyar disunatan lantaran bisul dina palangkakan, jsté. Gonjléng = leumpang awéwé bari ngobah-ngobahkeun awak, haying narik perhatian lalaki. Ingkud-ingkuan/jingkrung = leumpang teu bener lantaran nyeri suku, jsté. Jarigjeug/jumarigjeug = leumpang bari semu rék labuh (biasana jalma nu geus kurang tanaga atawa nu kakara hudang gering). Jingjet = leumpang semu hésé ngaléngkah lantaran cacad suku atawa make samping nu heureut teuing.

RAWA ONOM – LAKBOK (CIAMIS)

Image
Legenda/Kisah Rawa Onom seakan tak terpisahkan dengan sejarah perkembangan Kabupaten Ciamis. Dulu, para bupati dan raja-raja Galuh, diyakini punya hubungan dengan lelembut ini. Dalam berbagai hal, Onom dipercaya sering membantu mereka. Konon, kini Onom menghuni Pulo Majeti. Siapa sebenarnya Onom? Kisah bangsa lelembut bernama Onom di Ciamis, tak terpisahkan dengan perjalanan Bupati/Raja Galuh R.A.A. Kusumadiningrat di masa lalu. Raja Galuh yang kerap dipanggil Kangjeng Prebu ini amat dikenal di kalangan masyarakat setempat sebagai bupati yang berhasil membangun Ciamis. Misalnya, saat memimpin Ciamis menggantikan Raden Adipati Kusumadiningrat pada tahun 1886, Kangjeng Prebu membangun irigasi-irigasi dan dam (bendungan). Misalnya saluran Gandawangi dan Nagawiru untuk mengairi persawahan dan membuka areal baru. Dengan pembangunan irigasi itu, pembangunan sektor pertanian di bawah kepemimpinan Kangjeng Prebu mengalami kemajuan cukup pesat. Dia juga mewajibkan pasang...

Sejarah Kebun Raya Bogor

Pada tahun 1811, ketika perang Napoleon di eropa, Indonesia pada waktu itu bernama Hindia Belanda atau Nederlandsch Indie, direbut oleh Inggris dari kekuasaan Belanda.ketika Napoleon jatuh (1815/1816) para pemimpin negara di Eropa membuat perjanjian, antara lain tentang pembagian wilayah kekuasaan. Pada tahun 1816 Inggris menggembalikan kekuasaan Indonesia ke tangan Belanda. Peperangan yang terjadi di Eropa menyebabkan Belanda mengalami kelesuan, Kerajaan Belanda mengembangkan ilmu pengetahuan, karena mereka tahun tegak dan kejayaannya Belanda ditandai antara lain dengan ilmu pengetahuan. Untuk ini dikirimlah C.Th.Elout, A.A Boykens dan G.A.G.P. Baron Van Der Capellen, ke Indonesia dan Dr. Casper Goerge Carl Reinwardt selaku penasehat. Pada tanggal 15 April 1817 Reinwardt mencetuskan gagasannya untuk mendirikan Kebun Botani yang disampaikan kepada G.A.G.P. Baron Van Der Capellen,Komisaris Jendral Hindia Belanda dan beliau akhirnya menyetujui gagasan Reinwardt. Kebun B...

Sejarah Asal dan Arti Nama Pakuan dan Pajajaran

Hampir secara umum penduduk Bogor mempunyai keyakinan bahwa Kota Bogor mempunyai hubungan lokatif dengan Kota Pakuan, ibukota Pajajaran. Asal-usul dan arti Pakuan terdapat dalam berbagai sumber. Di bawah ini adalah hasil penulusuran dari sumber-seumber tersebut berdasarkan urutan waktu: Carita (Cerita): Waruga Guru (1750-an). Dalam naskah berhasa Sunda kuno ini diterangkan bahwa nama Pakuan Pajajaran didasarkan bahwa di lokasi tersebut banak terdapat pohon Pakujajar. K.F. Holle (1869). Dalam tulisan berjudul “De Batoe Toelis te Buitenzorg” (Batutulis di Bogor), Holle menyebutkan bahwa di dekat Kota Bogor terdapat kampung bernama Cipaku (beserta sungai yang memeiliki nama yang sama). Di sana banyak ditemukan pohon Paku. Jadi menurut Holle, nama Pakuan ada kaitannya dengan kehadiran CIpaku dan Pohon Paku.Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar (“op rijen staande pakoe bomen“). G.P. Rouffaer (1919) dalam “Encyclopedie van Niederlandsch Indie” edisi Stibbe t...