Pages

Friday, June 29, 2012

FOTO-FOTO KARAKTER & NAMA TOKOH WAYANG GOLEK

 Sumber : http://putragiriharja3.blogspot.com/p/foto-foto-wayang-golek.html

CITRASOMA
CITRAKSI
CITRAYUDA
DAWALA
ABIMANYU

Sejarah Singkat Wayang Golek

Pandawa 5 & Kresna
Perkembangan wayang golek berasal atau dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang berbeda. Walaupun demikian, wayang golek merupakan karya sastra lisan yang berkembang di Jawa Barat dan digemari oleh masyarakatnya. 
Perkembangan wayang golek yang terus dialami sampai sekarang selalu menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Perkembangan wayang golek menurut Salmun dimulai oleh perkembangan wayang kulit pada jaman Erlangga berkuasa pada tahun 1050 M. Ketika itu hanya diceritakan seperti dongeng (Salmun, 1961 : 10-27)

Atja & Saleh Danasasmita, (1981) mengatakan bahwa hampir dapat dipastikan bahwa orang yang membawakan dongeng (juru cerita) itu adalah dalang. 
Naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian yang ditulis tahun 1518 M, menyebutkan bahwa :  

Seni Sunda Degung, Sejarah dan Perkembangannya

Degung adalah kumpulan alat musik dari sunda.
Ada dua pengertian tentang istilah degung:
  1. Degung sebagai nama perangkat gamelan
  2. Degung sebagai nama laras bagian dari laras salendro ( berdasarkan teori Raden Machjar Angga Koesoemadinata).
Degung sebagai unit gamelan dan degung sebagai laras memang sangat lain. Dalam teori tersebut, laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk: (mi) 2 – (la) 5) dan degung triswara: 1 (da), 3 (na), dan 4 (ti).

Friday, June 22, 2012

LEUNGITNA NGARAN SUNDA DI TATAR SUNDA

Bubuka
Teu saeutik urang Sunda anu can manggih hartina Sunda, kumaha mimitina, naon sababna disebut Sunda, jeung teu sadar yen ngaran wewengkon Sunda teh sabenerna mah ayeuna geus leungit deui. Can aya kacaritakeun inohong Sunda anu kabeuratan ku leungitna ngaran wewengkon Sunda atawa Pasundan. Malah nepikeun ka ahli sajarah Sunda oge lolobana lamun nulis buku anu eusina sajarah di wewengkon Sunda make judul Sajarah Jawa Barat. Aya naon jeung kunaon nepikeun ka kitu, padahal eusina jelas-jelas samemeh ngadegna Propinsi Jawa Barat, sedengkeun anu disebut Jawa Barat mah henteu ngawakilan Tatar Sunda segemblengna.

Ieu tulisan teu aya maksud pikeun mangaruhan NKRI, tapi sabalikna pikeun nguatkeun NKRI kudu aya rasa silih ajenan jeung silih hormat ka indentitas masing-masing. Loba urang Sunda nu ngarasa diteungteuinganan ku leungitna ngaran Sunda atawa Pasundan sacara administratif. Memang masih aya keneh ngaran Tatar Sunda sacara de facto anu ti waktu ka waku mangkin luntur. Ieu kanyataan teh ngahariwangkeun pisan, lantaran geus kacontoan ku leungitna ngaran Sunda Kalapa nu pernah ngadeg leuwih ti 10 abad. Lamun teu percaya bisa dicobaan, misalna lamun rek indit ka Jakarta aya nu nanya “Bade ka mana ?” lamun di jawab “Bade ka Sunda Kalapa”, tangtuna bae anu nanya teh bakal rungah-ringeuh atawa kerung.

Nujadi masalah dina tulisan ieu lain nanaon, tapi perkara jati diri jeung eksistensi urang Sunda. Memang ngarasa teu mernah aya etnis, aya budaya, aya bahasa tapi teu boga wewengkon sacara de jure.

Asal Muasal Sunda

Disusun Oleh ;
Agus Setia Permana 
Penggunaan istilah Sunda saat ini sulit dibedakan dengan istilah Jawa Barat, sering dicampur adukan, padahal secara histori memiliki sejarah yang berbeda. Kedua istilah tersebut mengalami perubahan pengertian dan penafsiran, sehingga sering terjadi kekeliruan dan keragu-raguan dalam penggunaannya, terutama ketika istilah Sunda hanya dikonotasikan politis, dianggap sukuisme, sehingga terpaksa istilah Sunda dalam perkumbuhan sosial dan budaya harus diganti dengan sebutan Jawa Barat.
Istilah Sunda dalam catatan masa lalu diterapkan untuk menyebutkan suatu kawasan (Sunda besar dan Sunda kecil), sedangkan di dalam prasasti dan naskah sejarah digunakan untuk menyebutkan batas budaya dan kerajaan di pulau Jawa bagian barat (Jawa Kulwon), bukan hanya terbatas didalam yuridiksi penerintahan Jawa Barat saat ini, didalam Catatan Bujangga Manik disebut “Tungtung Sunda”. 
Dataran-Kepulauan Sunda
Bagi masyarakat yang mengenyam pendidikan pada medio 1960 an, istilah Sunda masih ditemukan didalam mata ajar Ilmu Bumi, suatu istilah yang menunjukan gugusan kepulauan yang disebut Sunda Besar dan Sunda Kecil. 

Thursday, June 14, 2012

SEKILAS RAGAM HIAS "PAKARANG"

oleh : MAMAT SASMITA 
 
Ketika membaca sebauh buku tentang Arsitektur Tradisional Jawa Barat, disana disebutkan bahwa ragam hias di rumah Sunda tidak ditemukan, alasannya mungkin karena masyarakat Sunda dahulu lebih bersifat semi sedenter (berpindah-pindah), sehingga rumah dianggap bukan harta kekayaan sebagai milik pribadi yang sangat didambakan sehingga tidak perlu dihias.
Tetapi apabila membaca naskah Sunda kuno Sanghyang Siksakandang Karesian (SSK) disana disebutkan beberapa ahli yang pada dasarnya berkaitan dengan seni diantaranya keahlian mengukir yang disebut maranggi, keahlian melukis, keahlian mengolah logam, membatik dan sebagainya. Tome Pires pada tahun 1512 telah mendeskripsikan keadaan keraton mempunyai 330 tiang kayu yang tebal seperti tong anggur dan pada baian puncaknya dihias dengan ukiran yang indah.
Kemungkinan ragam hias untuk bangunan (rumah) sudah ada, bisa jadi bukan hanya di keraton tetapi juga di kabuyutan. Bagaimana di rumah rakyat biasa?, mungkin karena berpindah-pindah itu maka ragam hias di rumah tidak menjadi suatu keharusan. Barangkali ada baiknya untuk menemukan ragam hias ini di benda lain, bukan hanya selalu berkutat pada pencarian di rumah hunian. Tetapi mengarahkan pencarian ke benda lain yang dianggap sebagai banda pakaya anu masket dina dirina yang tidak pernah ditinggalkan walaupun harus pindah tempat. Setidaknya ada empat macam benda tersebut yaitu : pakarang (perkakas seperti pisau, golok, kujang, kudi), wadah (tempat untuk menyimpan sesuatu) atau parabot seperti parabot dapur termasuk lisung, jubleg atau halu, amparan (tikar, lampit atau benda anyaman tertentu untuk digelar sebagai tempat duduk atau tempat tidur) dan kain atau pakaian.

BENTUK BEDOG SUNDA

bagian-bagian golok sunda

Golok atau bedog sunda sangat beragam, karena tiap daerah di Jawa Barat memiliki variasi bentuk tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan karakteristik masing-masing masyarakat penggunanya. Golok (bedog) sunda umumnya memiliki bilah dengan panjang lebih kurang 30 cm sampai dengan 40 cm, namun ada pula bilah golok yang berukuran pendek atau kurang dari 30 cm. Golok (bedog) sunda yang memiliki panjang bilah lebih dari 40cm disebut kolewang atau gobang.
Bagian utama dari sebuah golok adalah bilah (wilah) dan penamaan golok umumnya berdasarkan pada bentuk bilahnya yang terbuat dari campuran besi dan baja. Bahan baku yang umum digunakan oleh pengrajin golok di Jawa Barat saat ini adalah lempengan per bekas mobil. Bahan ini relatif mudah didapat di tempat penjualan besi bekas. Per mobil bekas digunakan selain karena lebih murah dari bahan baku yang baru, juga karena merupakan campuran besi dan baja yang cocok untuk golok.
Bilah golok dimulai dari buntut atau paksi, yaitu bagian ekor pada pangkal bilah yang dimasukkan pada pegangan golok (perah). Badan bilah terdiri dari perut (beuteung), yaitu bagian sisi yang tajam. Sedangkan bagian yang tumpul dinamakan punggung (tonggong). Ujung bilah golok disebut dengan congo.
Punggung bilah golok sunda ada yang lurus ada pula yang berpunggung melengkung atau dalam istilah sunda bentik.

Jenis Golok (Bedog) Sunda

Jenis atau bentuk golok (bedog ) sunda sangat beragam, karena tiap daerah di Tatar Sunda memiliki variasi bentuk tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan karakteristik masing-masing masyarakat penggunanya.
Di Tatar Sunda ditemukan beberapa bentuk golok dengan nama yang sama namun bentuknya berbeda di daerah lain, serta sebaliknya bentuk golok yang sama tetapi memiliki sebutan nama yang berbeda di lain daerah.Pada tulisan ini nama sebutan dan bentuk golok menggunakan data dari golok sunda yang ada di Ciwidey Kabupaten Bandung Jawa Barat.
Berdasarkan kegunaan golok sunda dapat dibedakan menjadi dua, yaitu golok pakai/bedog gawé /pakakas, selanjutnya disebut dengan bedog gawé, dan golok sorén/golok silat/pakarang, selanjutnya disebut golok pakarang. Golok yang berupa pakarang digunakan untuk beladiri/berkelahi (silat) atau setidaknya sebagai ganggaman (pegangan) yang di-sorén dipinggang oleh para pendekar atau jawara (Banten, Betawi), oleh karena itu selalu memakai sarangka (sarung). Sedangkan bedog yang berupa pakakas ada yang memakai sarangka dan ada pula yang tidak. 

KONSEP WAKTU DALAM PANDANGAN KI SUNDA

Waktu dalam bahasa Sunda disebut dengan kata Wanci dan Mangsa adalah sebuah konsep terhadap pembagian siklus perubahan keadaan alam baik selama sehari atau pun dalam setahun. Masyarakat Sunda sejak dari dulu sudah mengenal konsep waktu ini, hal itu terbukti dengan ditemukannya penanggalan pada prasasti-prasasti kuno dan naskah-naskah kuno yang terdapat di wilayah Sunda.
Ada nama-nama khusus yang diberikan terhadap siklus perubahan alam itu, seperti pada siklus sehari dikenal nama-nama waktu sebagai berikut :

Wanci janari leutik, yaitu kira-kira jam 01.00 – 03.00 malam.
Wanci janari gede, yaitu kira-kira jam 03.30 – 04.30
Wanci balebat, yaitu waktu pajar telah terlihat di sebelah Timur kira-kira jam 04.30.
Wanci carangcang tihang, yaitu waktu setelah pajar kira-kira jam 04.30 – 05.00.
Wanci haneut moyan, yaitu waktu yang sangat enak untuk berjemur di bawah sinar matahari, kira-kira jam 07.00 – 08.30.

KALENDER (KALA) SUNDA


 


LEBIH kurang 500 tahun, sistem penanggalan Sunda tak lagi akrab dengan masyarakatnya. Padahal, praktik “hitung-menghitung hari baik” hingga kini tetap dilakukan orang-orang Sunda yang “pandai”. Malah, orang Sunda sendiri –meski tak semuanya– merasa belum afdal jika hajat mereka (seperti pernikahan, membangun rumah, dan sebagainya) tak “dihitung” terlebih dahulu.
Ternyata, proses “hitung-menghitung” itu bukan berdasarkan sistem penanggalan Sunda, melainkan sistem penanggalan Jawa hasil pengaruh dari sistem penanggalan India. Soalnya, itu tadi, sistem penanggalan Sunda tak lagi akrab pada masyarakatnya sejak kurang lebih 500 silam.
Selasa (18/1) malam, Yayasan Candra Sangkala menerbitkan kalender Sunda untuk pertama kalinya. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum itu ternyata bertepatan dengan tahun baru Sunda. Ya, Tanggal 18 Januari 2005 bertepatan dengan tanggal 01 Suklapaksa (parocaang) bulan Kartika tahun 1941 Caka Sunda.
Penerbitan kalender Sunda itu sebagai hasil kerja keras seorang putra Bandung, Ali Sastramidjaja (70). Pria yang sempat belajar teknik di Negeri Belanda itu, selama 9 tahun meneliti sistem penanggalan Sunda. Bahkan, kabarnya, dalam kurun waktu tersebut, pria kelahiran 27 Oktober 1935 itu telah “menghabiskan” 9 unit komputer.

Monday, June 11, 2012

Wayang Golek (Ind)

Wayang golek adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer. Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan “bayang” karena dilihat dari pertunjukan wayang kulit yang memakai layar, dimana muncul bayangan-bayangan. Di Jawa Barat, wayang ada yang menggunakan boneka (dari kulit/wayang kulit atau kayu/wayang golek) dan ada yang dimainkan oleh manusia (wayang orang). Berkenaan dengan wayang golek, ada dua macam wayang golek, yakni wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. Semua wayang, kecuali wayang wong, dimainkan oleh dalang sebagai pemimpin pertunjukan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan antawacana, mengatur gamelan, mengatur lagu dan lain-lain.

Wayang golek biasanya memiliki lakon-lakon, baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita besar Ramayana dan Mahabrata dengan mempergunakan bahasa Sunda disertai iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, seperangkat bonang, seperangkat bonang rincik, seperangkat kenong, sepasang goong (kempul dan goong) dan ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang serta rebab.

Konsep Kageulisan

“Konsep Kageulisan”
“The beauty is in the eye of the beholder”
Rambut

1.Rambut galing muntang
2.Rambut hideung meles
3.Rambut ombak banyu
Beungeut
1.Ngadaun sereh
Taar
1.Taar teja mentrangan

Halis
1.Halisna ngajeler paeh
Bulu panon
1.Bulu panon carentik
Soca
1.Socana cureuleuk

Silsilah Ngaran Tempat

borondong garingOléh-oléh Priangan dilingkung gunung
Majalaya, Soréang, Banjaran Bandung…
Sempalan lagu “Borondong Garing” di luhur téh ngandung déskripsi sawatara ngaran tempat nu aya di Tatar Sunda. Demi nataan ngaran-ngaran tempat téh ilaharna sok disebut toponimi. Nurutkeun kajian folklore, toponimi téh bagian tina élmu onomastika (onomastics), anu ulikanana ngawengku di antarana baé: méré ngaran jalan, ngaran atawa jujuluk jalma, ngaran kadaharan, ngaran bubuahan kaasup asal-usul (legénda) ngaran hiji tempat dumasar kana ’sajarah’ ngajanggélékna.
Nataan ngaran tempat tangtu bakal loba rambat kamaléna lantaran ngajujut ngaran tempat mah teu cumpon ku nyawang ngan tina hiji aspék baé. Nya sawadina kudu dijujut deuih rupa-rupa informasi nu nyampak disatukangeun kaayaan éta tempat. Kumaha pakuat-pakaitna antara ngaran tempat jeung éta informasi? Ilustrasi di handap saeutikna baris méré gambaran anu écés.
Upamana, mun ti Subang rék ka Bandungkeun urang tangtu bakal ngaliwatan Tanjakan Émén. Éta tempat téh pernahna di kebon entéh, méméh gerbang Tangkuban Parahu. Mun dititenan éta ngaran tempat téh ngandung sababaraha informasi. Kahiji, pangna disebutkeun Tanjakan Émén nurutkeun setting fisikal (morfogéologis atawa kontur permukaan bumi) lantaran éta jalan téh nanjak (nanjeur). Kadua, di éta tanjakan téh nurutkeun setting sosial, cék sakaol mah (kira-kira taun 70-an) kungsi aya kajadian nu matak geunjleung. Di éta tempat, kungsi aya supir ompréngan Bandung-Subang cilaka, ngan duka alatan tabrakan duka tigebrus, nepi ka maotna. Ngaranna Émén. Ari cék mitos (setting kultural), lamun nu rék ngaliwat ka éta tempat kudu ngalungkeun roko ngarah salamet.

Ngaran Kekembangan

Kembang awi : eumbreuk
Kembang bako : bosongot
Kembang bawang : ulated
Kembang bolang : ancal
Kembang boled : tela
Kembang cabe : bolotot
Kembang cau : jantung
Kembang cengek : pencenges
Kembang cikur : jelengut
Kembang eurih : ancul
Kembang gedang : ingwang
Kembang genjer : gelenye
Kembang hoe : bubuay
Kembang honje : comrang
Kembang jaat : jalinger
Kembang jambe : mayang
Kembang jambu aer : lenyap
Kembang jambu batu : karuk
Kembang jarak : uing
Kembang jengkol : merekenyenyen
Kembang jeruk : angkruk/angkes
Kembang jotang : puntung
Kembang kadu : olohok
Kembang kalapa : suligar
Kembang peuteuy : pendul
Kembang kaso : curiwis
Kembang kawung : pengis
Kembang koneng : badul
Kembang kulur : pelepes
Kembang laja : jamotrot
Kembang leunca : pengit
Kembang limus : seleksek
Kembang lopang : cacas
Kembang muncang : rinduy
Kembang pare : ringsang
Kembang salak : sedek/gojod
Kembang sampeu : dingdet
Kembang taleus : ancal
Kembang tangkil : uceng
Kembang terong : moncorong
Kembang tiwu : badaus
Kembang waluh : alewoh

Ngaran Anak Sato

Anak anjing : kirik/kicik
Anak bagong : begu
Anak bandeng : nanar
Anak banteng : bangkanang
Anak bangbung : kuuk
Anak bangkong : buruy
Anak belut : kuntit
Anak bogo : cingok
Anak boncel : bayong
Anak buhaya : bocokok
Anak deleg : boncel
Anak embe : ceme
Anak gajah : menel
Anak hayam : ciak/pitik
Anak japati : piyik
Anak kancra : badal
Anak keuyeup : bonceret
Anak kuda : belo
Anak kukupu : hileud
Anak kutu : kuar
Anak lancah : aom
Anak lauk : kebul/burayak
Anak lele : nanahaon
Anak lubang : leungli
Anak maung : juag/aum
Anak monyet : begog
Anak munding : eneng
Anak reungit : utek-utek
Anak sapi : pedet
Anak ucing : bilatung

Bilih aya nu kalangkung atanapi kirang keneh mangga di tambihan...

Paribasa

1.Paribasa Wawaran Luang
Eusina ngebrehkeun pangalaman anu geus lumrah di masyarakat sarta mangrupa bahan babandingan pikeun laku lampah urang.
Contona:
  1. Adat kakurung ku iga. Hartina, adat atawa kabiasaan anu geus hese dipiceunna.
  2. Mihaphayam ka heulang. Hartina, mihape atawa titip barang ka nu geus kanyahoan teu jujur.
  1. Kokoro manggih Mulud, puasa manggih Lebaran. Hartina mang pang meungpeung.
  2. lwak nangtang sujen. Hartina, wani nyorang pibahayaeun.
  1. Hulu gundul dihihidan. Hartina, nu keur untung tambah untung.

Pupuh Jeung Conto Tembangna

Asmarandana ngarupakeun tembang pupuh nu ngagambarkeun rasa kabirahian, deudeuh asih, jeung nyaah.

Conto tembang

Eling-eling mangka eling
Rumingkang di bumi alam
Darma wawayangan bae
Raga taya pangawasa
Lamun kasasar lampah
Nafsu nu matak kaduhung
Badan anu katempuhan
Balakbak ngarupakeun tembang pupuh nu ngagambarkeun heureuy atawa banyol.

Conto tembang

Aya warung sisi jalan rame pisan; citameng
Awewena luas luis geulis pisan; ngagoreng
Lalakina-lalakina los ka pipir nyoo monyet; nyanggereng

Sisindiran

Sisindiran asalna tina kecap ‘sindir’ nya éta ngomong henteu togmol tapi ku jalan dibalibirkeun, pikeun ngaragangan nu diajak nyarita, supaya omongan urang henteu karasa nyentug. Jadi nu disebut sisindiran téh nya éta kasenian ngaréka basa nu diwangun ku cangkang jeung eusi, pikeun ngedalkeun maksud anu henteu saceplakna bari dipamrih karesmianana (M.A. Salmun).
Sisindiran nurutkeun wangunna dibagi tilu, nya éta:
  1. Wawangsalan/bangbalikan
  2. Paparikan
  3. Rarakitan
Nilik kana sipatna, wangun nu tilu éta mibanda tilu rupa sipat, nya éta: 1) silih asih, 2) piwuruk, jeung 3) sesebréd.

Ngaran Wanci

* Janari Leutik : Tabuh 01.00 – 03.00
* Janari Gede : Tabuh 03.00 – 04.30
* Balebat ; Tabuh 04.30
* Carangcang Tihang : Tabuh 04.30 – 05.00
* Rebu-rebun : Tabuh 05.00 – 06.00
* Haneut Moyan : Tabuh 07.00 – 08.00
* Pecat Sawed : Tabuh 09.00 – 10.00
* Rumangsang : Tabuh 11.00
* Manceran : Tabuh 12.00
* Lingsir Ngulon : Tabuh 13.00
* Panon Poe Satangtung : Tabuh 15.00
* Tunggang Gunung : Tabuh 16.00 – 17.00
* Sariak Layung : Tabuh 17.00 – 17.30
* Sareupna : Tabuh 17.30 – 18.00
* Harieum Bengeut : Tabuh 18.00 – 19.00
* Sareureuh Budak : Tabuh 19.00
* Sareureuh Kolot : Tabuh 21.00
* Tengah Peuting : Tabuh 24.00

(Dicutat ti Unak-Anik Basa Sunda, ku Dedi S.Pd)

Ngaran Patempatan


alun-alun tanah lapang di hareupeun kabupatén, kawadanaan, jsté.

babakan lembur anyar; ngababakan, nyieun lembur anyar.

babaladon kotakan leutik anu pernahna di bagian tanah sésém­péran; di sawaréh tempat disebut ogé baladoan.

babantar bagian walungan nu ngocorna leuwih tarik. Disebut ogé parung.

balungbang kamalir gedé sarta rada jero tadah cileuncang.

bangawan walungan nu kacida gedéna.

basisir sisi tanah (keusik) nu adek ka laut.

bojong/bobojong tanah anu nyodor ka cai (walungan, talaga, laut); jojontor, jajirah.

bubulak sarupa tegalan, tanah nu pinuh ku jukut nu aya di lam­ping atawa di pasir.

bungin pulo di muara walungan. Disebut ogé délta.

Saturday, June 9, 2012

SYAHADAT BUHUN

Masyarakat Sunda Tradisional mengenal adanya Sahadat atau Sadat Buhun, suatu istiah bagi sebutan kalimat sakral yang diyakini sebagai bagian dari tertib hidup Budaya Sunda Wiwitan. Namun ada juga yang menyebutnya Sahadat Baduy, karena sahadat ini banyak di gunakan oleh orang-orang Baduy penganut ajaran Sunda Wiwitan. Para Sastrawan Sunda menggolongkan Sahadat ini ke dalam kelompok Ajimantra atau puisi mantra, yang berasal dari dua daerah, yakni Ajimantra Baduy Banten dan Ajimantra Priangan.

Pengertian Sahadat Buhun berbeda dengan maksud Sahadat (Syahadat) yang dimaksud dalam agaman Islam. Didalam kamus bahasa Indonesia Sahadat (Syahadat) berarti (1) pengakuan kesaksian (2) pengakuan atau kesaksian iman-islam sebagai rukun yang pertama. Didalam Wikipedia edisi Bahasa Sunda disebutkan, bahwa Sahadat  mangrupakeun pernya taan kayakinan Islam. Dina basa Arab, hartina nyaksénan atawa méré kasaksian. Sahadat mangrupakeun pernyataan kapercayaan kana tunggalna Gusti (Allah dina basa Arab) sarta yén Nabi Muhammad minangka utusan pangahirna.
Perbedaan antara Sahadat di dalam agama Islam dengan Sahadat Buhun diakui pula oleh penganut agama Sunda Wiwitan. Seperti keterangan Ayah Mursid, tokoh masyarakat Cibeo :
Sahadat menurut ajaran Sunda Wiwitan diartikan sebagai rangkaian kalimat berisi do’a do’a atau jampe-jampe yang disampaikan kepada Sang Pencipta Alam sesuai dengan kebutuhan, kegiatan atau masalah yang dihadapi, dan diucapkan tidak sembarangan ada kramanya” (Saatnya Baduy Bicara, Hal. 90,  Asep Kurnia dkk – 2010).

P(M)urwakanti

Purwakanti nya éta sarupaning mamanis basa anu digunakeun kana sora boh vokal boh konsonan. Iskandarwassid (2003: 120) nétélakeun wangenan purwakanti sakumaha kaunggel di handap ieu:
“Purwakanti téh nya éta padeukeutna sada atawa sora kecap-kecap dina ungkara kalimah, klausa atawa prasa, utamana dina wangun ugeran (puisi); pernahna boh ngarandeg, ngajajar, horisontal (dina sakalimah, sajajar, sapadalisan) boh ngaruntuy, pértikal (antara jajaran, padalisan )”
Salmun (1936: 32-46) nétélakeun yén purawakanti dibagi-bagi jadi sapuluh rupa, éta purwakanti téh ngawengku:
1) Pangluyu, nya éta purwakanti nu ngaluyukeun sada atawa wianjana dina kecap-kecap.
Contona nya éta:
Nya jorok nya botrok (rok-rok)
Nu méncrang mani hérang
2) Maduswara, nya éta purwakanti anu mamanisna téh sora.

Mikaweruh Sawer

Sawér yaitu bentuk karya sastra Sunda buhun (jaman dahulu) yang sering digunakan dalam upacara nyawér. Dalam pelaksanaan sawér/ nyawér biasanya naskah sawér suka ditembangkeun (ditembangkan), dikawihkeun (dinyanyikan) atau dideklamasikan. Tradisi nyawér dalam kehidupan masyarakat Sunda merupakan warisan karuhun (nenek moyang) secara turun temurun.
Dalam upacara nyawér erat kaitannya dengan kepercayaan. Tapi seiring dengan perkembangan zaman, kegiatan nyawér tidak selamanya dikaitkan dengan keparcayaan atau ritual. Kegiatan sawér dianggap salah satu media untuk menyampaikan pepatah, memberi pepeling (nasehat) dan memberi do,a.
Berdasarkan bentuknya sawér banyak ditulis dalam bentuk papantunan, kawih, sair, pupuh, sajak dan prosa. Tapi kebanyakan sawér banyak ditulis dalam bentuk sair. Sedangkan umumnya pupuh yang sering digunakan dalam puisi sawér yaitu pupuh yang termasuk dalam wanda (bentuk) pupuh sekar ageung (Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula).
Berdasarkan isinya ada yang disebut dengan sawér orok (bayi), sawér sunatan, dan sawér kawinan (pernikahan). Sawér tersebut merupakan sawér yang sering digunakan dalam kehidupan urang Sunda.

Wangunan Adat Sunda Buhun

Aya sababaraha (beberapa) rupa (jenis) wangunan sunda buhun (lama) teh, diantarana:
· Suhunan jolopong: suhunan nu lempeng (lurus). Mun basa indonesia mah, atap pelana. Siga (saperti) pelana kuda. (Suhunan Jolopong merupakan bentuk rumah yang atapnya memanjang), disebut oge (juga) suhunan panjang, gagajahan, jeung regol.
· Jogo (tagog) anjing: Wangunan anu bentukna saperti anjing keur jogo (duduk) Suhunan hareup (nu siga bangus/ mulut anjing) ngiuhan émpér imah (menutupi teras rumah).

· Badak heuay: Dedegna imah badak heuay rada deukeut ka jogo (tagog) anjing, ngan luhureun sirahnya aya ceulian-susuhunan tambahan, kahareup. (bentuk rumah badak heuay seperti tagog anjing tapi diatas kepala suhunan ada tambahan atau atap belakang dan depan menyerupai badak sedang menguap)

· Parahu kumureb: Potonganana (bentuknya) siga tangkuban parahu pisan, trapesium tibalik, di Tomo Sumedang, disebutna jubleg nangkub.


· Capit Gunting: Potongan imah anu tungtung suhunanana make kai atawa awi dicagakeun saperti gunting rek nyapit.
· Julang ngapak: Julang ngapak mun diténjo ti hareup (dari depan), suhunan kénca katuhuna (kanan kiri) siga jangjang (sayap) manuk, julang-suhunanana opat nyambung nu di sisi nyorondoy. Sambunganana di tengah, maké tambahan siga gunting muka di punclutna. (Julang ngapak seperti burung yang sedang terbang)

Fakta Sejarah Asal Usul Bahasa-Basa Sunda dan Perkembangannya

Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam berbagai keperluan komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.
Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).
Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi "Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisesa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala dأesa. Ayama nu pandeuri pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya dina buana" (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Eyang Prabu Adipati Wastukentjana yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).
Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa Kwâeun Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.

TATAK RAMA BASA SUNDA (UNDAK USUK BASA)

Nurutkeun panalungtikan Tatakrama Basa Sunda atawa sok disebut oge UNDAK USUK BASA SUNDA (UUBS) teh wangunna saperti kieu:

I. RAGAM BASA HORMAT (BASA LEMES)
Dina hakekatna digunakeunana ragam hormat teh taya lian pikeun nembongkeun rasa hormat ti nu nyarita ka nu diajak nyarita jeung ka saha nu dicaritakeunana. Ragam Basa Hormat aya dalapan rupa nya eta: 1. Ragam Basa Lemes Pisan/Luhur; 2. Ragam Basa Lemes keur Batur; 3. Ragam basa Lemes keur Pribadi/Lemes Sedeng; 4. Ragam Basa Lemes Kagok/Panengah; 5. Ragam Basa Lemes Kampung/Dusun; jeung 6. Ragam Basa Lemes Budak.

II. RAGAM BASA LOMA (AKRAB, KASAR)
Basa loma atawa nu ilahar disebut basa Kasar, saenyana lain dina harti kasar henteu ngahormat, tapi kulantaran digunakeun pikeun komunikasi di antara anu geus wanoh, jeung babaturan ulin upamana. Ragam Basa Loma ieu teh aya dua rupa nya eta: 1. Ragam Basa Loma/Akrab; jeung 2. Ragam Basa Garihal/Songong/Kasar Pisan.
Ragam basa anu garihal ieu mah digunakeunana teh keur ka sato atawa digunakeun ku jelma nu keur ambek pisan.

Jadi Undak Usuk Basa Sunda anu dina Kongres Basa Sunda taun 1986 di Cipayung Bogor disebut TATAKRAMA BASA SUNDA teh upama dijumlahkeun mah aya dalapan tahapan (ragam).
Sanajan Konferensi Kebudayaan Sunda I di Bandung jeung Kongres Basa Sunda VII di Garut ngusulkeun supaya Tatakrama Basa Sunda (UUBS) cukup dua tahap bae nyaeta RAGAM HORMAT jeung RAGAM LOMA, tapi dina hirup kumbuh sapopoe mah masih keneh digarunakeun TILU TAHAP/RAGAM . Ieu di handap digambarkeun POLA TATAKRAMA BASA SUNDA dina tilu Tahap/Ragam tea, nyaeta:

RAJAH PAMUNAH

Pun sapun ka Maha Agung
Ka Gusti Nu Welas Asih
Gusti pamuntangan beurang
Gusti pamantengan peuting
Sajatining pati hurip
Sajatining kasucian

SEJARAH SUNDA DAN GALUH


Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh adalah dua kerajaan yang merupakan pecahan dari Kerajaan Tarumanagara. Dalam catatan perjalanan Tome Pires (1513), disebutkan bahwa dayo (dayeuh) Kerajaan Sunda terletak dua hari perjalanan dari Pelabuhan Kalapa yang terletak di muara Sungai Ciliwung. Keterangan mengenai keberadaan kedua kerajaan ini juga terdapat pada beberapa prasasti. Prasasti di Bogor banyak bercerita tentang Kerajaan Sunda sebagai pecahan Tarumanagara, sedangkan prasasti di daerah Sukabumi bercerita tentang keadaan Kerajaan Sunda sampai dengan masa Sri Jayabupati.

Berdirinya kerajaan Sunda dan Galuh
Pembagian Tarumanagara
Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman jaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 M, ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh, untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa.

Karena Putera Mahkota Galuh berjodoh dengan Parwati puteri Maharani Shima dari Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas.

KRONOLOGI SEJARAH SUNDA


Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah ada sejak jaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke- 17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun. 

Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.

Kronologi Sejarah Kerajaan Sunda